Oleh: Veri Muhlis Ariefuzzaman (Direktur Konsepindo Reserach & Consulting)

Jika tak ada aral melintang, jam 3 nanti kita sudah akan tahu siapa pemenang pilkada DKI Jakarta. Ada banyak lembaga yang menyelenggarakan quick count dan mereka semua kredibel. Tak mungkin kerjasama dengan televisi jika tak kredibel. Ini jelas-jelas soal hidup mati lembaga. Jadi berhentilah mempersoalkan nama lembaga apa yang menyelenggarakan quick count. Sepanjang prosedur, metode dan kode etik ditaati, hasilnya akan bisa dipertanggungjawabkan. Kepada siapa saja yang berpikir hanya satu dua lembaga yang benar dimana temannya di situ berdiam pasti tak beralasan: sakit itu sih hehe.

Lantas siapa yang akan menang? Ini yang kita tunggu. Kedua pasangan calon punya peluang menang, hanya saja kecenderungan akhir menjelang pencoblosan yang berhasil dideteksi oleh beberapa lembaga menunjukan pasangan Anies-Sandi lebih benderang. Itu kecenderungan, itu deteksi kemarin, sekarang bisa beda. Karenanya yang sekarang pasti bisa menjawab hasil (hampir) tepatnya adalah quick count.

Quic count sendiri masih ada margin error, plus minus 1%. Artinya dari klaim hasil akhir quick count suatu lembaga, bisa saja lebih rendah 1% atau lebih tinggi 1% . Itulah mengapa KPU berulang kali menyatakan quick count bukan hasil akhir dan memang begitu seharusnya. Hasil akhir yang benar adalah hasil rekap KPU yang resmi.

Jika selisih dalam temuan quick count berada dalam arsir margin error, tak bisa diklaim siapa yang menang. Mungkin bahasa yang pasnya bisa dibilang, yang lebih tinggi sedikit adalah yang berpeluang. Kasus ini pernah terjadi saat pilkada Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pertama, saat itu quick count menunjukan tak ada yang bisa dinyatakan menang karena selisih antara Airin Rachmi Diany dengan Arsid ada dalam arsir margin error. Hasil akhirnya berdasar rekap KPU, Airin unggul amat tipis 1115 suara. Mungkinkah ini terjadi di Pilkada DKI kali ini? Kita tunggu beberapa jam ke depan.

Paslon yang mengerti ilmu dan metode survei akan segera menyatakan menang jika dalam quick count unggul di atas margin error. Begitu sebaliknya yang “kalah” dalam quick count, akan segera ucapkan selamat kepada yang menang. Dalam kasus Pilkada Banten misalnya perbedaan hasil yang tipis ditemukan oleh lembaga survei Indikator sebagaimana disiarkan TV One, pasangan calon Wahidin Halim-Andika Hazrumy unggul 50,31 persen dan Rano-Embay 49,69 persen (suara masuk 100 persen), karenanya Indikator menyatakan tidak bisa diklaim siapa pemenangnya.

Bisa jadi karena kredibilitas penyelenggara quick count yang dipercaya, atas hasil quick count itu kubu Wahidin Halim-Andika Hazrumy menyambut temuan dengan kegembiraan dan mengklaim pasti menang. Tapi karena selisih dalam arsir margin error ini juga Rano-Embay mengklaim menang dan meminta tunggu KPU. Kemudian ternyata terbukti hasil akhir berdasar rekap KPU, Wahidin Halim-Andika Hazrumy unggul 1,90 persen atas lawannya. Apa artinya ini semua? Quick count bisa menjadi alat deteksi paling presisi untuk mengukur raihan suara para paslon dan ini secara tidak langsung menjadi alat pengontrol, alat pembanding sekaligus alat “pengunci”. Jika hasil akhir KPU beda jauh dan melenceng banget dengan hasil quick count banyak lembaga, maka patut dipertanyakan terjadinya kecurangan terstruktur.

Kini mari kita pelototi banyak televisi. Beberapa stasiun televisi bekerjasama dengan beberapa lembaga yang menyelenggarakan quick count. Untuk melihat lembaga mana paling kredibel, cek rekam jejaknya. Googling saja, mudah kok. Mungkin saja satu lembaga merangkap sebagai konsultan politik satu kandidat, tapi untuk quick count mereka tak akan berani bunuh diri menyiasati atau mendustai publik, apalagi ini disiarkan langsung!

Siapa pemenang Pilkada DKI? Kita tunggu saja quick count!

OK OC…