Lembaga Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), merilis hasil survei evaluasi publik dan tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Hasilnya, keyakinan dan kepercayaan publik kepada pemerintah Jokowi-JK yang baru dilantik 20 Oktober lalu, sebesar 74,5%.

Peneliti SMRC Jayadi Hanan mengatakan, tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap Jokowi tersebut, dinilai sangat penting sebagai modal awal Jokowi dan kabinetnya memimpin pemerintahan.

“‎Modal terpenting seorang presiden adalah dukungan rakyat. Dukungan itu melalui tingkat keyakinan masyarakat terhadap seorang presiden atas pelaksanaan tugas-tugasnya. Persepsi dan evaluasi masyarakat terhadap tingkat optimisme masyarakat atas keberhasilan tugas seorang presiden,” ujar Jayadi dalam acara pemaparan hasil survei di Jakarta Pusat, Rabu (29/10/2014).

Survei SMRC itu dilakukan pada 2-4 Oktober 2014 yang dilakukan terhadap 1.520 responden yang dipilih secara multistage random sampling atau secara acak. Margin of error survei ini 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%.

“Secara demografis, keyakinan yang tinggi terhadap Jokowi ini merata, baik berdasarkan gender, desa atau kota, maupun usia,” ucap Jayadi.

Keyakinan Koalisi Merah Putih Merata

Keyakinan tersebut, menurut Jayadi, juga relatif merata di tiap pemilih masing-masing partai politik. Baik itu partai yang saat ini berada dalam barisan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) atau di Koalisi Merah Putih (KMP).

‎”Keyakinan yang agak rendah ditemukan pada pemilih partai PKS 63%, Gerindra 50% dan PBB 57%. Namun angka rendah tersebut masih di atas 50%,” ucap Jayadi. ‎

Hasil survei lainnya, lanjut Jayadi, masyarakat selama ini menganggap kondisi politik saat ini lebih buruk dibanding sebelumnya, yaitu sebesar 36,2%. Sedangkan yang mengatakan lebih baik yaitu sebesar 23,2%.

“Masyarakat menilai, tren evaluasi keadaan politik ini makin negatif pasca-kisruh pembahasan RUU Pilkada oleh DPR,” kata dia.

Sedangkan jumlah masyarakat yang menganggap kondisi hukum lebih buruk, kata Jayadi, sedikit lebih banyak yaitu 34,8% dibanding yang mengatakan lebih baik yaitu 33,4%.

“Tren evaluasi masyarakat terhadap keadaan hukum juga makin negatif pasca-pelaksanaan Pilpres lalu,” kata dia.

Sedangkan jumlah masyarakat yang mengatakan ekonomi sekarang lebih baik dibanding tahun lalu, menurut dia, jumlahnya sebesar 32,6%. Sedangkan yang mengatakan lebuh buruk yaitu sebesar 28,3%.

Namun menurut temuan SMRC, tren evaluasi negatif masyarakat terhadap ekonomi juga meningkat. “Masyarakat yang makin pesimis terhadap ekonomi,” kata Jayadi.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang berusia 17 tahun ke atas, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang sudah dilatih. (ind.l6)