Delegasi Parlemen DPR RI menyambut baik usulan pembentukan Parlemen Asia yang namun transformasi APA ke Parlemen Asia harus diteliti dengan seksama serta diprakarsai oleh penguatan organisasi dalam hal kontribusinya untuk menyelesaikan isu-isu global melalui jalur diplomatik.
Demikian dikatakan anggota delegasi Parlemen Indonesia Sartono saat menyampaikan paparannya di Sidang APA, Special Committee On Creation Of Asian Parliament, di Siam Reap, Kamboja, Selasa (28/11) seperti dikutip dari siaran pers DPR RI.
“Kita harus mengakui bahwa pembentukan Parlemen Asia merupakan upaya jangka panjang. Disini kami mendorong sekretariat nasional APA guna memperkuat kemitraan dan jaringan yang akan memungkinkan pertukaran informasi mengenai hasil parlemen di bidang legislasi, anggaran dan pengawasan, dalam sebuah karya transparan, adil dan produktif,” kata Sartono dihadapan 25 delegasi parlemen di kawasan Asia.
Sebagai awal misalnya, lanjut Sartono, nama-nama anggota parlemen harus tersedia di website APA, serta undang-undang nasional APA, dan memberikan ruang dan kemudahan untuk harmonisasi kebijakan di seluruh wilayah.
“Mendirikan Parlemen Asia sulit, meskipun tidak mustahil. Namun kita perlu penelitian lebih dalam pada kemungkinan, tantangan dan peluang. Hal ini mengingat keragaman di wilayah Asia. Untuk itu kami mendorong setiap negara anggota APA untuk melakukan riset komprehensif secara independen, khususnya pada dampak dari pembentukan parlemen Asia untuk ekonomi mereka dan stabilitas sosial politiknya,” tambah Sartono anggota DPR dari Fraksi Demokrat ini.
Delegasi DPR RI dalam sidang APA ke-9 kali ini dipimpin oleh Wakil Ketua BKSAP Juliari P Batubara, serta anggota BKSAP, Dave Akbarshah Fikarno (F-PG), Sartono (F-PD), dan M. Arief Suditomo (F-Hanura).
Asian Parliamentary Assembly dibentuk pada tahun 2006, dan saat ini memiliki keanggotaan sebanyak 42 negara dan 17 observers. (rls)