Indopolitika.com   Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Nurul Arifin, menilai bahwa survei palsu atas nama Gallup di situs CNNmerupakan salah cara memengaruhi preferensi pemilih. Meski demikian, ia tidak tahu siapa yang membuat artikel tentang survei itu.

“Soal survei Gallup bisa saja itu merupakan satu cara memengaruhi pemilih. Cara yang sama dilakukan juga oleh pihak lain. Ini pertempuran, Bung! Pintar-pintar menyusun strategi saja,” kata Nurul kepada kompas, Rabu (24/6/2014) siang.

Gallup merupakan salah satu survei kredibel di Amerika Serikat. Survei palsu yang mengatasnamakan Gallup itu dimuat dalam situs iReport CNN dan menunjukkan kemenangan untuk Prabowo-Hatta. Survei itu sempat disebarkan oleh salah satu pendukung Prabowo-Hatta, Pius Lustrilanang, dan disiarkan di stasiun televisi TV One.

Belakangan diketahui bahwa survei itu bukan laporan yang diterbitkan CNN, melainkan tulisan yang dibuat oleh pembaca. Tulisan itu dimuat di halaman iReport yang memberikan kesempatan untuk setiap pembaca menyampaikan informasi (citizen journalism).

Nurul mengaku tidak tahu siapa yang merancang artikel tentang survei palsu tersebut dan menayangkannya dalam halaman iReport CNN. Namun, Nurul berpesan agar masyarakat tidak terlalu terpengaruh dengan survei-survei yang dilakukan.

“Nyaris hampir semua lembaga survei tidak independen dan subyektif. Kita paham bahwa lembaga survei adalah industri yang menyertakan banyak pekerja di situ,” ujar Nurul.

Judul tulisan pada artikel itu adalah “Indonesia Predict Prabowo Will Be Next Indonesian President”. Tulisan itu menyebut, survei dilakukan oleh Gallup Indonesia. Hasilnya, 52 persen masyarakat Indonesia memperkirakan Prabowo akan menang, sementara yang memilih Jokowi 41 persen. Survei Gallup Indonesia itu disebut dilakukan pada 10-21 Juni 2014. (ind/kompas)