Jakarta – Hiruk pikuk pilkada Jawa Barat banyak diwarnai isu tarik ulur pengusungan calon oleh partai politik. Belum lama publik dikejutkan dengan munculnya kesan Demiz ditolak kalangan Gerindra Jabar, hal mana membuat Jenderal Naga Bonar itu bersuara lantang, jika yang menyatakan mendukungnya adalah Prabowo maka yang menyatakan mencabut juga harus yang bersangkutan.

Berikutnya publik juga dikejutkan dengan munculnya rekomendasi Partai Golkar untuk Ridwan Kamil, terang saja hal itu membuat murka para aktivis Partai Golkar Jawa Barat dimana selama ini sudah bergerak intensif mengkampanyekan ketua DPD provinsi mereka, isu ini bahkan membuat sebagian kalangan mengundurkan diri dari keanggotaan partai. Apakah kisruh politik jelang batas akhir pengusungan calon ini akan terus bergolak atau berujung manis bagi Ridwan Kamil, redaksi mengontak  pengamat pilkada dari kantor lembaga survei Stratak Indonesia.

Octaraina Soebardjo yang juga direktur Stratak Indonesia, menyatakan kisruh jelang pengusungan calon oleh parpol adalah dinamika biasa. Demikian juga kisruh di Jawa Barat. Menurutnya Jabar adalah barometer nasional, menang di Jawa Barat adalah modal besar untuk menang di tingkat nasional. Karenanya partai politik betul-betul bekerja serius agar bisa memang di daerah ini. Pertimbangannya tidak lagi semata kepentingan pilkada lokal tapi pemilu di tingkat lebih tinggi.

“Parpol akan memilih figur yang bisa menang di pilkada kini juga memenangkan mereka di pemilu serentak berikutnya. Ada pilpres, pileg, itu agenda yang tak mungkin diabaikan,” ujarnya.

Octarina menambahkan, masa kisruh pengusungan calon di Jawa Barat akan berlangsung lama, bahkan sangat mungkin sampai hari terakhir jelang pendaftaran ke KPU masih akan alot. Akan ada banyak hal yang dibahas termasuk soal posisi elektabilitas, strategi pemenangan hingga pendanaan pemenangan. Jabar itu luas dan khas, pemilihnya amat cair, mudah berubah.

“Jangan dikira Ridwan Kamil bisa menang mudah di Jawa Barat, bisa-bisa malah tumbang. Itu karena pada beberapa hal, Ridwan Kamil terlalu maju pikirannya, terlalu ngota, padahal pemilih Jabar banyaknya justru di desa. Artinya Ridwan Kamil tidak akan menang mudah di pilkada Jabar,” ungkapnya.

Octarina menganjurkan kepada para bakal calon untuk aktif mendekati parpol dan tidak mudah menyerah. Jika memang pilihannya mau mencalonkan dengan kendaraan partai politik, sebaiknya fokus menggarap soal itu. Membangun koalisi parpol bukanlah kerja mudah, butuh mentalitas tangguh dan pantang frustrasi. Sementara jika ada bakal calon yang merasa sudah punya jaringan pemenangan dan pendukung yang luas, pakai saja jalur perseorangan, itu lebih elegan.

“Pilkada Jabar itu kelasnya sedikit dibawah pilpres, proses lobby dan gerakan politiknya lebih banyak. Para kandidat harus bermental petarung. Mental dilamar harus diubah jadi mental melamar. Kalau berpikirnya sederhana, diusung syukur, tidak diusung juga tidak apa-apa, ya tidak akan ada kompetisi yang bagus di Jabar,” pungkasnya. *(Fied)