Oleh: Ahmad Faiz

Tahun 2014 dianggap sebagai tahun pesta demokrasi. Dimana pada tahun ini kita akan mengadakan pemilu pergantian jabatan legislatif dan eksekutif. Pemilu legislative telah dilaksanakan di bulan April lalu, dan pemilu eksekutif atau presiden dan wakil presiden akan dilaksanakan pada Juli. Di negara yang demokrasi ini kita bebas untuk menentukan siapa pemimpin yang kita anggap mampu menyalurkan suara kita sehingga membantu kesejahteraan dan kemakmuran negara untuk kedepannya. Bahkan dinegara yang demokrasi ini kita berhak untuk memilih tidak memilih. Namun dengan memilih untuk memilih kita akan berpartisispasi besar dalam menentukan masa depan negara.

Satu hal yang menjadi masalah besar ketika menjelang datangnya pemilu. Kini telah banyak masyarakat yang enggan menyumbangkan suaranya. Masyarakat mulai apatis dengan pemimpin negara dikemudian hari yang akan membawa negara kita nantinya. Sifat masyarakat ini muncul dikarenakan mereka mereka berpikir bahwa pemimpin negara tidak dapat memberikan perubahan terhadap keadaan masyarakat yang memprihatinkan. Mereka menganggap pemimpin hanya menduduki kursi jabatannya tanpa melakukan apapun dan melupan janji-janji yang telah umbar sebelum menjadi pemimpin. Itulah yang menyebabkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemilu. Hal ini terbukti dari pemilu tahun 2009, hamper 50 juta orang dari 176 juta orang yang mempunyai hakuntuk memilih, memilih untuk tidak memilih atau biasa disebut GOLPUT (GOLONGAN PUTIH).

Dilihat dari track record para pemimpin negara dari tahun ketahun yang selalu dipenuhi kekecewaan masyarakat karena banyak tindakan korupsi, kolusi, suap aksi susila, dan berbagai perbuatan tak layak lainnya. Merupakan hal yang wajar bila banyak masyarakat yang kecewa dan memilih untuk tidak memilih atau golput. Namun karakteristik seseorang pemimpin tidak dapat digeneralisasikan, karena tidak semua pemimpin mempunyai karakter yang sama. Namun tetaplah berpikir positif bahwa masih ada mutiara ditengah-tengah lumpur. Mutiara yang memiliki kemurnian dan bersih ketika diangkat dari lumpur.  Begitu pula dengan manusia, ditengah tikus-tikus yang berdasi dan berkerah putih tersebut, masih ada seseorang yang benar-benar tulus berjuang demi bangsa dan rakyatnya, berusaha menjadi pelindung dari ketidakadilan. Walau padahalnya tameng pelindung tidak berguna ketika ombak ketidakbenaran menyerang.

Maka dari itu golput bukanlah pilihan yang tepat atas suatu keputusan. Bahkan ketika kita terdiam membiarkan calon-calon pemimpin yang akan menghancurkan negara akan memiliki peluang besar untuk menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan. Dimana mereka dapat mengambil alih seluruh kekuasaan. Maka dari itu lebih baik kita memilih dengan memperhitungkan calon-calon legislative yang akan memberikan perubahan positif terhadap bangsa dan negara. Kita kenali lebih jauh lagi siapa mereka dengan melihat track record masing-masing calon legislatif. Siapa yang memiliki karakter yang baik dan benar-benar ingin memberikan perubahan untuk Indonesia menuju kebaikan.

Dengan memilih calon yang tepat, sama saja kita akan menyelamatkan masa depan negara kita menuju perubahan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan masa depan bangsa dan negara berada ditangan kita. Dengan memilih kita tentukan masa depan negara kita. Memilih untuk tidak memilih semakin menjerumuskan negara ke jurang kesengsaraan dimana calon-calon yang tidak berkompeten akan berkuasa dalam mengatur negara. Memilih untuk memilih adalah jati diri bangsa Indonesia.

 

* Penulis adalah seorang mahasiswa bertempat tinggal di Bogor