Palembang – Calon gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman menyatakan hal utama yang menghambat persoalan pendidikan di daerah pedalaman, perairan dan terpencil di Sumatera Selatan adalah pada masalah topografi dan geografi wilayah yang sulit diakses. Anak-anak di daerah seperti itu kesulitan untuk pergi ke sekolah. Jarak yang jauh dan rintangan dalam perjalanan, baik karena daerah perairan maupun daerah pedalaman yang akses jalannya tidak memadai, membuat pergi sekolah seperti perjuangan penuh risiko. Karena itulah ia mengemukakan pentingnya membangun infrastruktur untuk membuka akses wilayah terpencil, demikian disampaikan Syahrial dalam bincang program calon gubernur bersama media seusai shalat Jum’at bersama di Palembang, 18/8.

Syahrial menyebut kasus yang sempat ramai diberitakan setahun belakangan, karena tidak adanya sekolah di perkampungan nelayan di Sungai Rulu, Desa Juru Taro, Keamatan Muara Sugihan, Kabupaten Bayuasin, membuat wargan dan khususnya anak-anak bahkan warga asli kampung nelayan mengalami buta aksara. Syahrial menyayangkan terjadinya hal itu, karena seharusnya dari perspektif program sekolah gratis, idealnya tidak ada lagi anak-anak yang buta aksara, tidak sekolah, putu sekolah. “Program sekolah gratis itu tidak terbatas, berlaku menyeluruh sampai ke seluruh pelosok termasuk daerah terpencil. Namun demikian karena ada persoalan dalam hal akses maka daya jangkau peogram itu terbentur. Jadi solusi utamanya jelas dan tandas yakni membuka akses, membangun infrastruktur agar akses pendidikan dan ekonomi terbuka,” ujarnya.

Bagi Syahrial membuka akses daerah terpencil, perairan dan pedalaman adalah jalan menuju keselarasan dan menghilangkan ketimpangan. Kejayaan Sumsel akan terjadi jika pembangunan dan kesejahteraan merata di semua wilayah. Persoalan kemiskinan yang terjadi karena adanya ketimpangan pembangunan. Ketimpangan terjadi karena sulitnya akses sehingga perekonomian dan pendidikan terhambat. Orang akhirnya pergi meninggalkan desa mencari peruntungan hidup di kota. Dengan dibangun jalan poros, jalan pembuka akses, pelabuhan dan kapal ke perairan dan juga bandar udara di wilayah barat dan utara maka persoalan akses terselesaikan. “Kota dan desa menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal, orang bisa memilih hidup dimana saja karena di semua tempat bisa berusaha, bisa bekerja, bisa mencari nafkah, bisa menyekolahkan anak dan seterusnya,” ujarnya.

Menutup perbincangan. Syahrial menegaskan persoalan pendidikan merupakan stressing utama pemerintahannya jika terpilih nanti. Dengan pendidikan yang merata dan tinggi peradaban akan terbentuk. Kalau sudah peradaban tertata maka persoalan-persoalan yang muncul karena masalah ketidakmengertian, ketidaktahuan, kekolotan, kepercayaan pada dukun, takhayul, mengundi nasib dan seterusnya akan hilang. “Kalau berpendidikan, orang akan tahu aturan, tindak kejahatan akan berkurang. Sangat penting urusan pendidikan ini, makanya akses harus dibangun agar hak mendapatkan pendidikan yang layak bisa dinikmati anak-anak di daerah pedalaman dan daerah terpencil,” pungkasnya.(FED)