Palembang – Gubernur Sumsel 2003-2008 Syahrial Oesman mengatakan, Hari Raya Idul Adha/Qurban yang jatuh pada Jum’at 1 September 2017 menjadi pengingat kita semua, bahwa spirit berkorban sangat diperlukan. Jangan hanya mengikuti maunya sendiri-sendiri, warga Sumsel harus bahu membahu menyingsingkan lengan baju untuk sebanyak-banyaknya memberikan yang terbaik dalam pembangunan Sumsel.

Syahrial menambahkan, semangat pengorbanan tersebut di antaranya dapat diwujudkan dengan bergotong royong dan bekerja keras untuk menjadikan “Sumsel Jaya dan Gemilang” dengan menyingkirkan segala kepentingan pribadi. “Dengan kerja keras itulah saya kira kita akan bisa mengembalikan kejayaan Sumsel di tengah persaingan dan kompetisi yang sekarang semakin hari semakin ketat,” imbuh Syahrial Oesman pada wartawan di kediamannya di Palembang (30/08).

Sebagaimana diberitakan di beberapa media, Sumsel telah dipercaya oleh Presiden Jokowi dengan memesan sapi jenis Berangus seberat 1,2 ton yang kini berada di sebuah peternakan di Kenten Laut Banyuasin seharga 85 juta. “Di hari raya Idul Adha 1438 hijriah, Presiden Joko Widodo berencana kembali menyumbangkan hewan kurban di Palembang. Ini pertanda baik dari Bapak Presiden Joko Widodo, bahwa peternakan di Sumsel bisa lebih maju lagi di masa mendatang,” kata Syahrial Oesman.

Peraih Bintang Maha Putra Utama 2007 mengurai tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban. “Tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla yang dilakukan Nabi Ibrahim lewat perintah menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi, itu yang petama,” kata Syahrial Oesman.

Kedua, ucap Syahrial, tentang kemuliaan manusia, bahwa satu dan lainnya sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.

Pengorbanan merupakan buah dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti mengorbankan sedikit waktunya, misalnya, untuk mengantre dalam sebuah loket pejuatan tiket, bersedia menghentikan sejenak kendaraannya saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-lain.

“Sebab, keserakahan hanya layak dimiliki para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita, untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesama dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah,” pungkasnya.  (FED)