Partai Golkar menjadi pemenang kedua dalam pemilu legislatif 09 April 2014. Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, Partai Golkar mengalami kekalahan. Sampai sekarang, kondisi ini memunculkan dinamika internal yang menarik. Belum lagi keberadaan Partai Golkar dalam Koalisi Merah Putih dengan sejumlah agenda politik ke depan. Partai Golkar dianggap yang paling terdepan berhadap-hadapan dengan Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Sementara, jadwal Musyawarah Nasional IX Partai Golkar diperkirakan pada tahun 2015 nanti. Sampai sekarang, belum banyak kegiatan yang dilakukan jajaran pengurus dan fungsionaris Partai Golkar, kecuali menghadiri sejumlah pertemuan dengan calon-calon Ketua Umum Partai Golkar yang berkunjung. Kegiatan silaturahmi itu belum melahirkan keputusan apapun, selain hanya mulai mengenali pemikiran dan sosok dari calon-calon Ketua Umum.

Di luar itu, Partai Golkar akan berusia 50 tahun pada tanggal 20 Oktober 2014 nanti. Usia yang boleh dikatakan dewasa dan matang untuk ukuran partai-partai politik di Indonesia. Selama proses itu, Partai Golkar sudah menyumbangkan banyak gagasan, kader dan sekaligus kiprah politik di Indonesia. Hanya saja, belum terlihat bagaimana anak-anak muda Partai Golkar berperan. Bahkan pendiri dan sesepuh utama Partai Golkar, Prof Suhardiman, masih terbaca memberikan komentar-komentar langsung atas persoalan yang berkembang di dalam tubuh partai.

Tantangan yang terpenting bagi Partai Golkar untuk lima tahun ke depan adalah bagaimana bersikap terhadap pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla yang notabene bukan diusung oleh Partai Golkar. Bagaimanapun, kader-kader Partai Golkar banyak yang terlibat dalam pemerintahan, baik sebagai eksekutif maupun legislatif daerah. Selain itu, hubungan emosional sejumlah kader Partai Golkar, terutama dari Kawasan Timur Indonesia, begitu kuat dengan Jusuf Kalla. Kondisi ini akan mempengaruhi Partai Golkar ke depan.

Di luar itu, Partai Golkar akan menghadapi pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden yang dilakukan secara serentak pada tahun 2019. Persiapan ke arah itu penting dilakukan sejak sekarang. Persiapan itu antara lain menyangkut sumber daya manusia yang diterjunkan dalam pemilu, baik yang berposisi sebagai calon anggota legislatif ataupun calon presiden/wakil presiden. Selain itu tentulah sumberdaya manusia lain dipersiapkan guna melakukan pemenangan, mulai dari juru kampanye, tim lapangan, tim social media, maupun saksi.

Kinerja Elektoral

Dari data setiap pemilu bisa dilihat betapa pemilih Partai Golkar relatif stabil. Selama pemilu Orde Baru, Partai Golkar menempati posisi pertama. Penguasaan di parlemen relatif kuat. Hanya saja, setelah pemilu 1997, Partai Golkar tak berhasil keluar sebagai kekuatan politik dominan. Bahkan, dari sisi jumlah pemilih, terus menurun sejak pemilu 1999. Kalaupun terjadi pertambahan jumlah pemilih, dari pemilu 2009 ke pemilu 2014, adalah dampak dari pertambahan Daftar Pemilih Tetap (DPT) juga.

Kalau diperhatikan, Partai Golkar mengalami kekalahan di daerah-daerah perkotaan, tetapi masih bertahan di daerah-daerah pedesaan. Sementara, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan semakin banyak dibandingkan dengan tinggal di daerah pedesaan. Dari sisi jumlah kursipun, perolehan Partai Golkar makin menyusut. Partai Golkar terlihat mengandalkan basis-basis tradisional atau pemilih yang memang secara turun-temurun sulit memilih partai lain.

Pemilu 1999 Pemilu 2004 Pemilu 2009 Pemilu 2014
Kursi 120 Kursi DPR 128 Kursi DPR 106 Kursi DPR 91 Kursi DPR
Suara 23.741.749 suara 24.480.757 suara 15.037.757 suara 18.432.312
Prosentase 22,44% 21,58% 14.45% 14.75%

Walau terus berada pada posisi juara satu atau juara dua, terlihat Partai Golkar belum mengalami perbaikan kinerja di kalangan pemilih. Tentu terdapat banyak analisa, antara lain bermunculannya partai-partai politik didirikan oleh tokoh-tokoh Partai Golkar. Kalau dilihat dari sudut itu, dalam pemilu 2014 saja, terdapat Partai Gerindra, Partai Nasdem dan Partai Hanura sebagai partai yang didirikan oleh tokoh-tokoh Partai Golkar. Dilihat dari persepektif yang lain, Partai Demokrat dan PKPI juga bisa disebut sebagai partai politik yang mengambil ceruk suara yang sama dengan Partai Golkar dan juga berisi sejumlah alumni dari Golongan Karya.

Terlihat sekali Partai Golkar kurang mampu merawat konstituennya. Padahal, ditinjau dari sudut apapun, Partai Golkar masih dianggap sebagai partai politik paling moderen di Indonesia. Bahkan, jumlah pengurus Partai Golkar dari Sabang sampai Merauke berjumlah sekitar 1,5 Juta orang. Artinya, dibandingkan dengan hasil pemilu 2014, masing-masing pengurus hanya mampu merekrut 10 orang lebih pemilih. Partai Golkar sepertinya kurang berhasil mengelola jumlah pengurus yang banyak, serta lebih sering melakukan kerja-kerja politik untuk konstituen di luar.

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat juga memicu perilaku politik yang berubah. Para pemilih semakin terbiasa dengan informasi politik yang beragam. Komentar-komentar cepat segera hadir, terutama di media sosial, menyikapi persoalan-persoalan publik yang lahir dari politisi lintas partai. Masyarakat pengguna media sosial kian mengikuti perkembangan yang terjadi, lalu melakukan interaksi dengan pejabat-pejabat publik yang mereka kenal. Sehingga, kantor-kantor partai politik sedapat mungkin juga menyikapi ini dengan cara membuka diri via media sosial.

Kiprah Kaum Muda

Masalah yang kini mulai terasa adalah belum jelasnya agenda regenerasi dalam tubuh Partai Golkar. Selama ini, dominasi wacana politik lebih banyak muncul dari kalangan senior Partai Golkar, termasuk dari pendiri Partai Golkar. Bukan berarti kader-kader sekarang tidak tahu berterima-kasih, hanya saja kelihatan sekali Partai Golkar kehilangan determinasi dalam percaturan politik nasional, ketika kalangan senior terlihat lebih banyak tampil ke depan dibandingkan yang lebih yunior. Belum lagi pola-pola komunikasi politik sekarang yang berbeda dengan generasi politik sebelumnya.

Dihitung dari jumlah pengurus dari kalangan usia muda, terutama di bawah 45 tahun, terlihat jumlahnya sedikit. Begitu juga dengan nama-nama yang terpilih dalam pemilihan legislatif sampai pemilukada. Hal ini mengindikasikan bahwa Partai Golkar masih digerakkan oleh kalangan yang berusia di atas 45 tahun, sejak pemilu Orde Baru pertama kali digelar. Masalah ini muncul dalam setiap kali pemilu, ketika kalangan anak-anak muda Partai Golkar kesulitan untuk membangun komunikasi dengan kader-kader lama.

Guna memperbaiki hal itu, perlu disusun platform yang lebih baik bagi Partai Golkar yang bervisikan perombakan dan perbaikan struktur partai, termasuk dengan melibatkan lebih banyak kaum muda. Organisasi Partai Golkar juga perlu dirombak, agar jangan hanya terlihat banyak, padahal sama sekali tidak efektif. Partai Golkar juga memerlukan audit dari sisi organisasi kepartaian, agar benar-benar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan.

Apabila memang organisasi yang menjadi beban bagi Partai Golkar, perlu ada usaha besar-besaran guna melakukan perombakan, kalau perlu dengan reorganisasi. Organisasi yang sama sekali tidak lagi mampu menghidupi diri sendiri dan menjadi beban Partai Golkar, kalau perlu dihilangkan sama sekali. Di luar itu, apabila diperlukan, organisasi lainnya perlu dibentuk, terutama yang bisa menjangkau pemilih dengan cara yang lebih efektif. Jangan sampai Partai Golkar kehilangan energinya, hanya untuk menghadapi konflik internal dalam struktur yang tambun.

Langkah Regenerasi

Sejumlah langkah tentu diperlukan, guna melakukan pembaharuan di tubuh Partai Golkar. Hal itu berangkat dari kebutuhan untuk membesarkan Partai Golkar guna menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Partai Golkar memerlukan sejumlah perbaikan, bukan dalam aspek berada di dalam atau diluar pemerintahan, melainkan dari sisi kelembagaan partai sendiri. Apalagi basis utama Partai Golkar berada di wilayah pedesaan, selain tentu para pemilih loyal yang setia sejak era Orde Baru.

  • Pelibatan kader Partai Golkar muda yang berada di pemerintahan – baik eksekutif maupun legislatif – secara intensif dan teratur. Hubungan komunikasi perlu dilakukan dengan petinggi partai politik, baik di tingkat daerah sampai pusat. Pelibatan bukan hanya dalam artian simbolis, tetapi yang terutama sekali dalam perumusan kebijakan partai.
  • Pembatasan usia maksimal dalam kepengurusan partai di daerah-daerah. Hal ini diperlukan guna melakukan kaderisasi secara alamiah, sesuai dengan aturan main di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Misalnya, untuk kepengurusan di tingkat kecamatan dibatasi sampai usia 40 tahun, untuk kepengurusan di tingkat kabupaten/kota dibatasi sampai usia 50 tahun, sementara untuk kepengurusan di tingkat provinsi dibatasi sampai usia 60 tahun.
  • Pembatasan kepengurusan ganda di masing-masing organisasi Partai Golkar. Maksimal, masing-masing pengurus hanya boleh terlibat dalam dua organisasi, yakni kepengurusan partai politik dan salah satu ormas – baik yang mendirikan ataupun yang didirikan. Hal ini dilakukan guna memaksimalkan keterlibatan yang lebih besar dari banyak kalangan .
  • Pembentukan organisasi yang terdiri dari para senior yang sudah pensiun dari Partai Golkar atau yang tidak lagi menjadi pejabat publik. Organisasi ini lebih banyak digunakan guna belajar bagi kader-kader partai yang berusia muda, lewat kurikulum yang dikelola secara profesional. Akan ada kelas-kelas politik berjenjang, misalnya sebulan, tiga bulan, enam bulan dan seterusnya, dengan para pengajar yang berasal dari kalangan senior.
  • Pengiriman kader-kader muda yang berprestasi untuk melakukan studi-studi banding ke daerah-daerah yang dianggap baik ataupun ke negara-negara lain, terutama dalam lingkup ASEAN, Asia, ataupun dunia pada umumnya. Kader-kader muda inilah yang nanti menyerap perkembangan-perkembangan menarik di daerah lain guna diterapkan di daerahnya ataupun di negara-negara lain yang disesuaikan dengan kebutuhan daerahnya.
  • Pembentukan Dewan Ideologis Partai Golkar yang memiliki kewenangan untuk memberikan masukan kepada kader-kader partai yang bertugas di legislatif, eksekutif ataupun pejabat teras partai. Dewan Ideologis Partai Golkar ini terdiri dari para senior yang sudah tidak lagi memiliki ambisi politik untuk duduk dalam jabatan-jabatan publik, melainkan lebih memikirkan kebesaran partai.
  • Kunjungan periodik ke daerah-daerah basis yang dilakukan kader-kader muda dan tokoh-tokoh senior Partai Golkar, dengan melibatkan kepengurusan inti di tingkat Dewan Pimpinan Pusat. Kegunaannya adalah membangun kebersamaan, sekaligus juga menunjukkan kedekatan dengan masyarakat di daerah-daerah basis.

Sejumlah pemikiran itu tentu masih bisa dikembangkan atau dikurangi. Untuk itulah, dirasa perlu untuk mengumpulkan kader-kader muda Partai Golkar yang memiliki jabatan legislatif dan eksekutif, guna merumuskan langkah-langkah yang tepat. Kekuatan kader-kader muda ini tidak bisa diabaikan, mengingat mereka sudah teruji dalam pertarungan politik (pemilu legislatif dan pemilukada), relati dikenal di daerahnya masing-masing, serta tidak akan membebani partai dari sisi anggaran operasional.

Temu Kaum Muda Partai Golkar

Berdasarkan uraian di atas, dirasa perlu untuk mempertemukan kaum muda Partai Golkar untuk membicarakan persoalan-persoalan yang menyangkut kepentingan partai secara khusus, kepentingan bangsa dan negara secara umum, serta kepentingan kaum muda sendiri sebagai sumberdaya utamanya. Kegiatan ini sama sekali tidak terkait dengan siapa yang mau menjadi Ketua Umum Partai Golkar dalam Munas IX mendatang, melainkan hanya memfasilitasi kader-kader muda Partai Golkar untuk saling mengeluarkan pikiran-pikiran terbaik bagi kemajuan Partai Golkar ke depan.

Tempat                 : Hotel Imperial, Karawaci, Tangerang.

Tanggal                 : 12 Oktober 2014 (check in bisa tanggal 11 Oktober).

Inisiator                :

  • ·         Zaki Iskandar (Bupati Tangerang),
  • ·         Erwin Aksa (Pengurus DPP Partai Golkar),
  • ·         Indra J Piliang (Kader Partai Golkar),
  • ·         Syarif Fasha (Walikota Jambi)
  • .         Tantowi Yahya (DPR RI)

Catatan:

  • Panitia menyediakan akomodasi dan seminar kit.
  • Panitia tidak menanggung transportasi lokal ataupun antar daerah.
  • Peserta bisa menghubungi Ninuk (0821.1113.2346) atau Romeo Pernando (0813.6312.3065) untuk registrasi hotel dan informasi lain.
  • Peserta berusia maksimal 45 tahun, terdiri dari anggota DPRD provinsi, kabupaten dan kota, kepala atau wakil kepala daerah, serta anggota DPR RI atau DPD RI yang merupakan kader Partai Golkar.
  • Acara ini sama sekali tidak mengatasnamakan kepengurusan DPP Partai Golkar atau apapun, tetapi hasil-hasil pertemuan akan diserahkan kepada pihak-pihak terkait, termasuk tokoh-tokoh Partai Golkar.

Tambahan:

Laison Officer acara ini adalah Sang Gerilya Institute, lembaga kajian bagi orang-orang berpikiran merdeka.

More info: indrapiliang.com