Indopolitika.com   Pemilihan presiden pada 9 Juli nanti mengundang perhatian banyak pihak termasuk dari luar negeri. Salah satunya adalah Allan Nairn. Dia adalah wartawan investigasi asal Amerika Serikat, yang menjadi terkenal karena pernah dipenjara oleh bekas orang nomor satu di Indonesia, Soeharto saat sendang meliput di Timor Timur.

Di blognya allannairn.org, (http://www.allannairn.org/2014/06/news-do-i-have-guts-prabowo-asked-am-i.html),  dia memunculkan kembali hasil wawancaranya dengan capres dari Gerindra Prabowo Subianto yang dilakukannya pada Juni dan Juli 2001. Mereka bertemu di kantor Prabowo di Mega Kuningan, Jakarta.

Saat itu Allan tengah membuat laporan tentang serangkaian kasus pembunuhan yang diduga melibatkan militer. Dia berharap Prabowo mau berbicara seputar kasus ini. Namun Prabowo mengaku hanya memiliki sedikit informasi mengenai pembunuhan itu. Meski demikian, keduanya terlibat percakapan selama dua jam.

Keduanya membahas soal pembantaian di Santa Cruz, Timor Timur. Saat itu tentara membantai sedikitnya 271 warga sipil. Insiden itu terjadi pada 12 November 1991 di Dilli, di luar tempat pemakaman di mana warga berkumpul.

Prabowo mengatakan, pembantaian itu merupakan tindakan bodoh. Menurutnya, tindakan itu bodoh karena dilakukan di depan banyak saksi yang bisa melaporkan kejadian ini ke seluruh dunia.

“Santa Cruz telah membunuh kami secara politis. Ini sebuah kekalahan. Anda jangan membantai warga sipil di depan media. Mungkin bisa dilakukan di desa terpencil, tapi jangan di ibukota provinsi,” kata Prabowo.

Pada September 1983, terjadi serangkaian pembantaian di desa terpencil Kraras di kawasan pegunungan Bibileo, Timor Timur.

Komisi rekonsiliasi Timor Timur bentukan PBB menemukan bahwa Prabowo  ditempatkan di sektor timur Timor Timur saat pembantaian itu terjadi. Sejumlah saksi mengungkapkan bahwa Prabowo terlibat dalam operasi untuk mengurangi populasi warga sipil di Gunung Bibileo.

Dua tahun setelah Soeharto lengser, Indonesia dipimpin presiden sipil, Abdurrachman Wahid alias Gus Dur. Gambarnya kini sering dipakai Prabowo untuk kampanye. Namun menurut Allan, Prabowo dulu pernah mengecam Gus Dur dan demokrasi Indonesia.

“Indonesia belum siap untuk demokrasi. Kita masih kanibal, masih banyak kelompok yang melakukan kekerasan.” Menurutnya, kelompok etnis dan keagamaan masih menghalangi demokrasi.

Terkait Gus Dur, begini kata Prabowo.

“Militer kok tunduk pada presiden buta. Bayangkan! Lihat dia (Gus Dur), dia sangat memalukan. Sekarang lihat Tony Blair, Bush, Putin. Mereka muda, ganteng. Sementara kira punya presiden buta!”

Prabowo mengaku sangat mengidolakan jenderal Pervez Musharraf. Pemimpin Pakistan itu pernah menangkap perdana menteri sipil dan menerapkan pemerintahan diktator.

“Apakah saya punya keberanian? Apakah saya siap disebut sebagai diktator fasis? Musharraf punya keberanian itu,” kata Prabowo. (kbr/ind)