Sulawesi Selatan – Perebutan partai Golkar di setiap pemilihan kepala daerah di Sulawesi Selatan menjadi fenomena dalam perhelatan demokrasi lima tahunan tersebut. Berbagai cara dan pendekatan dilakukan kader untuk mengendarai partai berlambang pohon beringin tersebut.

Tak sedikit kader yang kecewa dan menyatakan melawan partainya di Pilkada meski harus menerima kenyataan pahit dengan kegagalan.

Mesin Golkar dan peluangnya untuk mengusung tanpa koalisi jadi salah satu pertimbangan kader untuk mengendarai partai yang dipimpin Abu Rizal Baktie tersebut.

Wakil Ketua Golkar Sulsel, M Roem menjelaskan, Golkar Sulsel mengacu pada survei partai dalam menentukan usungannya.

Ketua DPRD Sulsel tersebut menyatakan, semua kader Golkar memiliki peluang yang sama untuk mengendarai Golkar. Olehnya, ia menghimbau agar kader mulai mensosialisasikan dirinya untuk meraih survei Golkar.

“Semua kesempatan kader sama. Golkar mengacu pada survey,” kata Roem, Selasa (26/8/2014).

Ia menambahkan, dinamika perebutan Golkar merupakan hal yang wajar. Roem menyebutkan, Golkar tidak memaksakan kadernya untuk maju di Pilkada hanya dengan modal materi saja tapi juga dengan kapasitas dan kualitas.

Senada, Wakil Ketua Golkar Sulsel, Arfandy Idris mengatakan, setiap DPD II nantinya diminta untuk mengusulkan lima nama untuk disurvei DPP.

Ia menambahkan, Golkar memiliki dua survei yaitu survei penjaringan dan survei penetapan.

“Survei itu banyak kriterianya, yang jelas bukan hanya punya modal saja, tapi punya kemampuan dan pengalaman memimpin,” kata Arfandy.

Ia menuturkan, Golkar tidak hanya akan jadi partai pemenang saja tapi juga partai yang ingin melihat rakyat Sulsel maju dan sejahterah.

Olehnya, usungan kader tidak akan sembarang sehingga merugikan rakyat lima tahun ke depan.

Sebelumnya, Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menegaskan figur yang akan menggunakan Golkar sebagai kendaraan pada Pilkada 2015 harus bekerja keras. Syahrul mengatakan Golkar akan mengusung figur berkualitas dan disukai rakyat. Untuk mengukur tingkat penerimaan masyarakat, Golkar akan melakukan survei sebelum menetapkan calon.

“Golkar berjuang untuk kepentingan rakyat sehingga keputusan itu tidak hanya ada di tangan Syahrul tapi di tangan partai,” lanjutnya. (trb/ind)