Indopolitika.com   Kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengklaim mendapat perolehan suara terbanyak dari hasil real count hasil pemilu presiden (pilpres). Pasangan calon presiden-calon wakil presiden nomor urut 1 itu meyakini klaim itu didasari pada data valid.

Namun, kubu capres usungan Gerindra, PAN, Golkar, PPP, PKS dan PBB tetap ancang-ancang menyiapkan protes ternyata perhitungan yang dimiliki berbeda dengan versi KPU. Terlebih jika perhitungan KPU justru memenangkan duet Joko Widodo-Jusuf Kalla.

“Kita ini punya bahan untuk kita sandingkan dengan data-data KPU. Kan boleh, protes kan nggak dilarang di Indonesia apalagi kita punya data yang sahih,” kata Tantowi Yahya selaku Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo-Hatta kepada wartawan di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Kamis (10/7) malam.

Tantowi memastikan bahwa kubunya akan menghormati segala keputusan KPU terkait hasil pemilu presiden (pilpres) tahun ini. Tetapi, Koalisi Merah Putih pendukung Prabowo-Hatta akan tetap memperjuangkan data real count yang dikumpulkannya

“Boleh dong kita bertanya dulu, harus ada sinkronisasi. Namun, kita menghormati KPU yang diamanatkan undang-undang,” papar politisi Partai Golkar ini.

Hingga kini, sambung Tantowi, pihaknya masih mempercayai kinerja KPU dalam melakukan penghitungan suara. Ia juga yakin KPU tidak mendapatkan intimidasi dari pihak tertentu terkait proses penghitungan suara secara nasional.

“Saya tidak mau suuzon. Sampai saat ini kita masih berprasangka positif,” tandasnya. (jp/ind)