Indopolitika.com – Tim sukses pasangan Jokowi-Jusuf Kalla dianggap tidak sigap dalam menghadapi berbagai manuver yang dilancarkan lawan politiknya (Prabowo-Hatta, red). Hal ini mengakibatkan beberapa serangan lawan terkesan tidak bisa dibendung, bahkan tidak bisa dikendalikan.

“Ini seperti Spanyol di Piala Dunia 2014. Bertabur bintang, tapi bobol terus,” kata pengamat politik dari Lembaga Studi Politik Nusantara Rudianto Jalaini, saat disukusi dan bincang santai di Jakarta, (20/6).

Menurut Rudianto, meskipun di dalam tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla terdapat banyak figur yang piawai dalam menyusun strategi, mereka seperti kurang dilibatkan dan diberdayakan. Rudi menyebut seperti Hendropriyono, Luhut Pandjaitan maupun Pramono Anung, adalah figur-figur yang seharusnya mampu dimaksimalkan perannya dalam tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla. Rudi menilai, akar dari kelambanan tim pemenangan  Jokowi-Jusuf Kalla terletak pada figur ketua timses ‘Tjahjo Kumolo’ yang kurang berkoordinasi dengan orang-orang di sekelilingnya dan terkesan tidak menguasai lapangan.

“Ini membenarkan dugaan, Tjahjo dipilih karena ia figur yang mudah dikendalikan Puan Maharani,” jelasnya lagi.

Bahkan menurutnya, Tjahjo Kumolo dinilai kurang memperhatikan keberadaan timses atau relawan yang memang sudah ada. Pengangkatan Tjahjo Kumolo sebagai ketua timses ditengarai menjadi batu sandungan PDI-Perjuangan. Terlihat dari kerja Timses yang tidak sistimatis dan kurang terencana dengan baik.

“Jika dibilang sebagai sabotase mungkin terlalu dini. Tetapi, tak terhindarkan adanya kesan Jokowi seperti ingin dijegal,” kata dia.

Terlepas dari itu, Rudi menilai, partai yang identik dengan wong cilik ini mempunyai konstituen akar rumput yang siap memenangkan Pilpres 2014 dengan semangat dan kerja yang tidak kenal lelah.

“Kalau semuanya all out, situasinya tidak bakal seperti ini,” pungkas dia. (Ind)