Mantan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, mengatakan pertemuannya dengan Ketua KPK Abraham Samad tidak membahas kemungkinan Samad menjadi calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Joko Widodo.

“Tidak bahas cawapres karena (posisi saat itu) Sekjen PDI-P karena tidak pernah ikut rapat capres-cawapres sehingga tidak diberikan mandat penuh,” kata Tjahjo di Ruang Rapat Komisi III DPR RI, Jakarta, Senin, (16/2).

Dia menjelaskan dirinya hanya tahu bahwa Hasto Kristiyanto (saat itu Wasekjen PDI-P) dan Tim 11 membahas terkait capres dan cawapres PDI-P.

Menurut Tjahjo, dirinya tidak ikut apabila Hasto melakukan pertemuan dengan beberapa pihak karena tugasnya saat itu melakukan survei.

“Saya menjadi ketua tim sukses Jokowi dan tugas saya hanya survei saja,” ujarnya.

Dia menegaskan apa yang disampaikan Hasto kepada publik terkait pertemuan kedua, ketiga dan keenam dengan Abraham, dirinya tidak tahu.

Selain itu dia mengatakan pertemuannya dengan Abraham merupakan hal yang wajar karena posisinya saat itu adalah politisi PDI-P yaitu membangun komunikasi.

“Namanya ngobrol dan ngopi di rumahnya kan wajar karena saya sebagai politisi untuk membangun komunikasi,” katanya.

Tjahjo mengatakan dirinya hanya diajak oleh seorang dokter yang sangat dekat dengan Abraham Samad. Menurut dia apakah pertemuan itu melanggar SOP seorang pimpinan KPK, maka hanya Abraham Samad yang tahu.

“Soal salah atau tidak, melanggar SOP atau tidak, yang tahu ya AS. Saya hanya diajak seorang dokter yang sangat dekat dengan AS,” ujarnya.

Dia menegaskan pertemuan itu ada saksinya yaitu David, Hasto, dan Supriyansyah serta tidak membahas capres atau cawapres.

Menurut dia selama ini pertemuannya dengan Abraham selama ini bersifat formal terutama saat meminta yang bersangkutan mengisi sebuah acara di PDI-P.

“Tidak empat mata, namun lima pasang mata yang berlangsung satu jam di apartemen SCBD. Saya lupa tanggalnya namun sekitar Maret-April,” katanya. (tar/ind)