Palembang – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) termasuk salah satu provinsi dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di pulau Sumatera. Dilansir dari laman Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia www.bps.go.id, jumlah penduduk miskin di Sumsel per-Maret 2017 berada di urutan ke-4 dari 10 provinsi di Sumatera. Persentase penduduk miskin berada di angka 13,19 persen dari total jumlah penduduk sebanyak 8,16 juta jiwa.

Terpuruknya garis kemiskinan di Sumsel juga didukung oleh Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) dengan urutan ketiga tertinggi di Sumatera sebesar 0.60 persen, setelah Provinsi Aceh dan Bengkulu. Di Sumatera sendiri, urutan pertama persentase penduduk miskin ditempati oleh Provinsi Aceh sebesar 16,89 persen, Bengkulu sebanyak 16,45 persen, dan Lampung sebesar 13,69 persen dan Sumsel 13,19 persen.

Menanggapi realitas tersebut, calon gubernur Herman Deru mengatakan masalah kemiskinan tidak bisa lepas dari masalah ketahanan pangan bahkan ketahanan gizi, karena keduanya saling terkait. Rumahtangga yang miskin cenderung rawan pangan sebaliknya rumahtangga yang tidak miskin cenderung lebih tahan pangan. Menurutnya, kemiskinan secara tidak langsung merupakan indikasi lemahnya pemenuhan kebutuhan makanan di tingkat rumahtangga, baik karena rendahnya pendapatan masyarakat maupun karena tidak meratanya distribusi pangan, sehingga menjadikan mereka sebagai komunitas yang rawan pangan. Hubungan antara kemiskinan dengan ketahanan pangan sangat erat baik secara mikro di tingkat rumahtangga maupun secara makro di tingkat wilayah. “Ketahanan pangan pada dasarnya merupakan kemampuan untuk menjamin seluruh penduduk memperoleh pangan dalam jumlah yang cukup, mutu yang layak dan aman dikonsumsi, yang didasarkan pada optimalisasi pemanfaatan dan berbasis pada keragaman sumber daya lokal,” ujarnya saat diminta komentarnya terkait Hari Pangan Sedunia yang jatuh hari ini, tanggal 16 Oktober.

Deru menambahkan dengan penuh tekanan bahwa jaminan ketersediaan pangan merupakan persoalan serius bagi kelangsungan hidup. “Tidak stabilnya harga jual, mahal dan langkanya pupuk bersubsidi, hingga cuaca tak menentu merupakan persoalan yang dihadapi petani pangan. Akibatnya, mereka mulai meninggalkan sawah maupun ladang” ujarnya.

Deru yang akan berlaga di Pilkada Sumsel 2018 ini meyakinkan publik bahwa ia akan mendorong peningkatan produksi pertanian semaksimal mungkin. Bisa dengan membenahi jaringan tata irigasi mikro, bisa dengan memoderenisasi peralatan pertanian juga dengan mengawasi lahan-lahan pangan agar tak beralih fungsi. Menurutnya sudah tidak boleh lagi ke depan ada
pemberian ijin perkebunan dan hutan tanaman industri (HTI) di daerah produksi pangan. Deru menggarisbawahi pentingnya melindungi lahan pertanian.

Terkait peringatan Hari Pangan Sedunia yang mengambil tema soal penanganan permasalahan akibat migrasi dan upaya menarik anak muda untuk tertarik membangun pertanian, Deru menyatakan program unggulannya yaitu berusaha maksimal menjaga harga komoditas pangan hasil jerih payah petani di pasar. Kalau harga pangan hasil pertanian rakyat tinggi, dengan sendirinya anak-anak muda akan tertarik jadi petani. Untuk menjaga agar harga hasil tani bagus di pasar banyak sekali tang bisa dilakukan. “Tentu pentahapannya sudah kita rumuskan, yang jelas pembangunan kita ke depan harus mengedepankan preferensi atau keberpihakan pada para petani ini. Salah satu program untuk menekan angka kemiskinan adalah memperkuat ketahanan pangan. Petani maju, Sumsel maju,” pungkasnya. (AJ)