Indopolitika.com Tim Pemenangan Jokowi-JK dalam menggalang dukungan pemilih pada pemilu presiden 2014 ibarat senjata makan tuan. Banyak perilaku atau pernyataan mereka yang dinilai blunder, mengundang antipati terutama dari sejumlah kalangan umat Islam di Indonesia.

Pengamat politik Pusat Kajian Politik Islam dan Pancasila Yudha Firmansyah mengatakan, perilaku dan pernyataan kubu Jokowi-JK soal aksi inteligen terhadap masjid-masjid, penghapusan kolom agama di KTP, penghapusan Perda Syariah termasuk kasus Gallery of Rogue Wimar telah mengusik ketenangan Umat Islam. “Umat Muslim yang jumlahnya mayoritas di Indonesia merasa terusik dan tersakiti. Harusnya mereka lebih hati-hati dengan isu ini, ini sangat sensitif,” katanya ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (25/6).

Menurutnya, perilaku dan pernyataan tersebut seolah membenarkan isu negatif yang beredar di media selama ini. Masyarakat seperti menemukan kebenaran tentang isu Jokowi yang mengambil jarak dengan Islam. “Padahal mereka berusaha menentang habis-habisan isu itu. Isu Jokowi anti Islam, gak komit dengan keislaman. Tapi kok seperti dibenarkan sendiri dengan perilaku mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan, sejatinya kubu Jokowi memahami budaya maysarakat Islam Indonesia sebelum mengambil sikap atau mengeluarkan pernyataan. Sehingga dengan demikian, hal-hal yang dianggap merugikan pasangan Jokowi-JK bisa dihindari. “Soal Perda Sayariat misalnya, beberapa daerah dianggap berhasil menerapkan ini dan masyarakat mengamini. Misalnya di Kota Tangerang era Wahidin, masyarakat mendukung, baik umat Islam sendiri maupun non-Muslim,” urainya.

Ia tak manampik jika sikap serupa masih terus dikoarkan kubu Jokowi-JK, maka besar kemungkinan masyarakat yang pindah pilihan ke pasangan Prabowo-Hatta. “Bisa saja. Apalagi partai Islam banyak di sana (koalisi Prabowo-Hatta),” tandas Yudha. (Ind)