Indopolitika.com   Menjelang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 9 Juli 2014, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Hanura Wiranto mengingatkan seluruh rakyat Indonesia harus memilih seorang pemimpin dan bukan pembesar.

“Pemimpin menyerap apa yang diinginkan rakyat dan melaksanakannya. Kalau pembesar melaksanakan apa yang diinginkannya dan selalu merasa besar, serta senang dengan simbol-simbol kebesaran dan upacara,” ujar Wiranto di Solo, Sabtu (5/6/2014) saat berbicara di acara Sarasehan Kepemimpinan dalam Konteks Budaya-Komparasi Jongko dan Realitas Terkini di Padepokan Gedong Putih, Mojosongo, Solo. Ikut hadir para tokoh budayawan dan seniman se Kota Solo.

Wiranto menjabarkan pendekatan budaya Indonesia, khususnya Jawa, ada berbagai pandangan kepemimpinan menurut Jayabaya. Selain itu Ronggowarsito, budayawan Jawa kuno, dalam syair dan teksnya memprediksi dan menjabarkan kepemimpinan di Nusantara.

“Pandangan budaya Jawa menyebutkan jatuh bangunnya negara tergantung pemimpinnya. Dan kita dianggap sudah memasuki jaman yang tidak jelas bahkan disebut jaman edan, di mana orang baik dibenci dan orang jahat dipuja-puja,” katanya.

Ia mengatakan syair Ronggowarsito juga memprediksi setelah memasuki jaman yang penuh bencana, nantinya Nusantara akan masuk ke zaman yang membahagiakan, namun dengan sebuah syarat. Sejumlah syarat ini bisa terlihat dari calon pempimpin.

“Syaratnya ketika pemimpin seperti wiku yang sangat sederhana, tak butuh gemerlapnya kendaraan, pemimpin sudah selesai dengan dirinya, selalu bersih, hanya ingin rakyatnya bahagia, pemimpin yang hanya tunduk kepada Gusti Allah,” ujarnya.

Syarat selanjutnya, kata Wiranto, adalah pemimpin yang membuat keputusan berdasarkan kehendak rakyat. Karenanya pemimpin itu bergerak dan turun ke rakyat, mendengarkan dan blusukan kemana-mana.

“Dalam konteks kepemimpinan modern, syarat yang diungkap dalam budaya Indonesia itu sangat pas dan cocok, karena kebijakan itu dilahirkan dengan menyerap keinginan dan opini publik. Karena itulah yang juga jadi acuan kita dalam memilih pemimpin nasional,” terang Wiranto.

Sementara Ketua Komunitas Padepokan Gedong Putih Ki Suseno Hadi Parmono setuju paparan Wiranto. “Di saat orang riuh rendah berkampanye, bahkan kampanye hitam dengan menghujat bahkan memfitnah, kita di Padepokan ini mencoba menggali lagi konsep kempemimpinan dalam budaya Jawa yang adiluhung. Yang ternyata menurut Pak Wiranto sangat pas dengan konsep kepemimpinan moderen,” kata Ki Suseno. (tb/ind)