Bursa calon gubernur DKI Jakarta diprediksi bakal menyuguhkan duel sengit antara dua tokoh ternama sama-sama berasal dari Belitung, antara Gubernur DKI petahana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan Yusrul Ihza Mahendra (Yusril).

Sebab, sampai saat ini belum ada nama lain yang mampu menyaingi tingkat ketokohan dua figur itu. Hal itu ditegaskan Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Cha­niago, kemarin.

Kedua tokoh ini sudah ”perang” opini di media, khususnya online. Ahok menyerang Yusril, sebaliknya, Yusril juga tak mau kalah me­nyerang Gubernur DKI. Mantan Menteri Hukum dan HAM ini menjadi pengacara warga Kampung Luar Batang, Penjaringan yang sebentar lagi bakal digusur.

”Semua punya potensi, termasuk Yusril bisa berpotensi menjadi kuda hitam menenggelamkan popolaritas dan elektibilitas Ahok,” kata Pangi di Jakarta, kemarin.

Ada beberapa indikator syarat yang harus dipenuhi Yusril sehingga bisa menjadi kuda hitam dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI. Pertama, kata pria yang biasa disapa Ipang ini, adalah elektabilitas harus beririsan dengan popularitas. Popu­laritas yang tinggi juga tidak menjamin seseorang, kalau tak beriring­an dengan elektabilitas. Banyak elite atau calon kepala daerah yang derajat populisnya tinggi namun tingkat elektabilitasnya atau keterpilihannya rendah.

”Justru sebaliknya, potensi calon yang popularitasnya masih di bawah namum suntikan elektabilitasnya termasuk kinclong. Peluangnya dan potensi besar. Yusril salah satu calon yang cukup diperhitungkan,” ucap Ipang.

Kedua, lanjut Ipang, mesin partai salah satu determinan yang menentukan. Mesin partai tidak bisa dianggap remeh, figurnya bagus namun tidak dipanaskan oleh mesin partai juga jadi soal. Di tengah jalan berisiko disalip di lap terakhir oleh kompetitor.

”Partai politik bisa membantu memuluskan calon apabila didukung mesin partai yg mapan. Kalau Yusril mendapatkan tandu partai mercy, ya makin sengit kompetisi pilkada DKI,” kata dia menambahkan.

Sementara itu, pengamat politik dari Kantor Konsultan  Konsepindo Research & Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman menilai terlalu dini menyimpulkan bakal terjadinya head to head antara Ahok dan Yusril. Dinamika politik masih terbuka kemungkinan berubah, terutama bila partai mampu menghadirkan tokoh alternatif.

”Tokoh yang tingkat penerimaan masyarakat sama bahkan melebihi Yusril,” katanya.

Menurut Veri, yang terpenting sekarang adalah bagaimana semua bakal calon menunjukkan keseriusannya membangun Ibu kota. Ter­masuk dalam hal ini sosialisasi memaparkan konsep pembangunan untuk Jakarta lima tahun ke depan. Namun, ia tak menampik bila kontestasi menuju kursi Gubernur DKI Jakarta akhirnya akan adu kuat satu lawan satu.  (sk/ind)