INDOPOLITIKA – Dua tersangka dalam penembakan massal di Pantai Bondi, Australia yang menewaskan 15 orang telah diidentifikasi sebagai ayah dan anak, tetapi motif mereka masih belum jelas.

Selain korban tewas, sebanyak 40 korban lainnya luka-luka dalam penembakan massal di Pantai Bondi ini, termasuk dua petugas polisi dan tiga anak-anak. Lima orang masih dalam kondisi kritis, sementara yang lainnya dalam kondisi serius atau stabil.

Mal Lanyon, seorang petugas polisi di New South Wales, Australia, mengatakan bahwa kedua tersangka yakni seorang pria berusia 50 tahun dan anaknya berusia 24 tahun.

Tersangka pria berusia 50 tahun itu tewas ditembak di lokasi. Sementara putranya, saat ini mengalami luka serius dan sedang dirawat di rumah sakit.

Kepolisian New South Wales sebelumnya mengumumkan bahwa mereka sedang mencari tersangka ketiga, tetapi Lanyon bersikeras hanya ada dua penembak.

Menurut pejabat intelijen AS yang mengetahui penyelidikan tersebut, putranya adalah Naveed Akram, seorang warga negara Pakistan. Identitas ayahnya belum diungkapkan, tetapi para pejabat telah memastikan bahwa ia memiliki senjata secara legal dan memiliki izin senjata api selama 10 tahun.

Polisi menyita enam senjata api berizin di lokasi kejadian. Sebuah alat peledak rakitan juga ditemukan di salah satu kendaraan tersangka.

“Kami akan menyelidiki motif di balik serangan itu. Itu sangat penting untuk penyelidikan,” kata Lanyon, menambahkan bahwa polisi telah menetapkan penembakan itu sebagai tindakan terorisme.

Festival Hanukkah Yahudi

Serangan itu terjadi ketika lebih dari 1.000 orang berkumpul di Pantai Bondi untuk menghadiri festival Hanukkah Yahudi.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan tersangka “dengan sengaja menargetkan komunitas Yahudi pada hari pertama Hanukkah.”

Perdana Menteri Albanese mengunjungi lokasi kejadian pada Senin (15/12/2025) dan meletakkan bunga untuk mengenang para korban. (Red)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com