15 Tahun Berlalu, Suci Kian Tegar Cari Keadilan untuk Munir #Menolaklupa!  

  • Whatsapp
Suciwati, dalam acara peringatan 15 tahun meninggalnya pejuang HAM 'Membongkar Pemufakatan Jahat Pembunuhan Berencana Terhadap Munir' di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9).

INDOPOLITIKA– 7 September 2004 lalu, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib menghembuskan nafas terakhirnya. Dia diracuni dalam pesawat saat bertolak ke Amsterdam, Belanda. Kini, 15 tahun berlalu, dalang dibalik pembunuhan aktivis penerima penghargaan Right Livelihood Award itu tak kunjung terungkap#menolaklupa.

Sebagai seorang istri, Suciwati masih tegar mencari keadilan untuk suaminya hingga detik ini. Dalam pandangan dia, kasus ini sebenarnya sangat terang benderang. Hanya butuh keberanian untuk mengungkap “dalangnya”#menolaklupa.

Baca Juga:

“Kami hari ini mulai lagi untuk mencari ruang celah untuk kami majukan lagi, apalagi strategi yang harus kami lakukan di ruang-ruang hukum,” ujar Suciwati, dalam acara peringatan 15 tahun meninggalnya pejuang HAM ‘Membongkar Pemufakatan Jahat Pembunuhan Berencana Terhadap Munir’ di Kios Ojo Keos, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9).

Suciwati sempat mengaku optimistis kasus suaminya ini akan menemui titik terang benderang. Tapi balik lagi, ternyata unwilling dari pemerintah tidak ada. “Kami sempat optimislah awalnya. Tapi ternyata, unwilling dari pemerintah tidak ada. Padahal kasus ini sudah terang benderang,” kata Suci yang datang bersama anaknya#menolaklupa.

Sekadar mengingatkan, Munir meninggal dalam penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda, dengan transit di Singapura. Dia menumpangi pesawat Garuda bernomor penerbangan GA-974. Dia duduk di kursi 40G. Awalnya, aktivis yang hendak melanjutkan pendidikan di Belanda itu tidak disangka sebagai pembunuhan.

Munir sempat dikira hanya sakit hingga akhirnya meninggal sekitar pukul 08.10 waktu setempat, dua jam sebelum pesawatnya mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. Ia kemudian dimakamkan di Batu, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 12 September 2004.@menolaklupa.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *