Internasional

5 Nelayan WNI Bawa Kabur Rp49 Juta dari Kota Kinabalu

Ilustrasi medcom.

Kuala Lumpur: Sebanyak lima orang nelayan warga negara Indonesia (WNI) dinyatakan hilang di perairan Kota Kinabalu, Malaysia. Namun, hilangnya kelima WNI itu disebut bukan karena kasus penculikan, melainkan mereka kabur dan membawa sejumlah uang.

"Setahu saya tidak ada lagi penculikan nelayan WNI di Sabah. Terakhir peristiwa penculikan nelayan WNI terjadi 11 September 2018," kata Duta Besar RI untuk Malaysia Rusdi Kirana kepada Medcom.id, Rabu, 26 September 2018.

Meski demikian, dia membenarkan ada lima nelayan WNI yang hilang di perairan Kota Kinabalu. "Menurut keterangan polisi dari hasil penyelidikan sementara tidak terdapt tanda bahwa mereka diculik," imbuhnya.

Rusdi membeberkan keterangan majikan pemilik kapal bahwa para nelayan itu berangkat 8 September lalu untuk mencari ikan. Meski demikian, pada 11 September 2018, kapal ditemukan tanpa awak dan beberapa peralatan kapal hilang.

"Pihak majikan berpendapat bahwa kelima nelayan WNI tersebut kabur dengan membawa peralatan kapal dan uang sejumlah 13.500 ringgit Malaysia (Rp49 juta) untuk pembelian logistik selama kapal melaut," tukasnya.

Baca: Kemenlu Harap Malaysia Bisa Bantu Bebaskan WNI yang Diculik

Beberapa peralatan kapal yang hilang, yaitu GPS dan alat jaring.

Rusdi menuturkan pihak Konsulat Jenderal Kota Kinabalu bekerja sama dengan pihak kepolisian Labuan, mendalami kasus tersebut. Dia menambahkan, KJRI Kota Kinabalu sudah meminta polisi menerapkan asas praduga tak bersalah kepada mereka.

Pada tanggal yang sama, tepatnya 11 September, dua orang nelayan WNI dinyatakan hilang karena diculik di Perairan Sabah. Diduga dua orang tersebut diculik oleh kelompok bersenjata dari Filipina Selatan.

Para perwakilan Indonesia di Malaysia telah mengeluarkan surat imbauan agar nelayan WNI meningkatkan kewaspadaan dan tidak melaut di sekitar perairan Sabah Timur sampai kondisi keamanan kondusif.

"Perwakilan RI jg telah mengadakan pertemuan dgn the Eastern Sabah Security Command (ESSCOM) dan mengusulkan antara lain kiranya ESSCOM dpt menempatkan aparat keamanan di setiap kapal penangkap ikan dan lebih selektif dalam mengeluarkan izin bagi kapal-kapal yang akan melaut," pungkas Rusdi.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close