Ada Pertanyaan Tentang Qunut, Muhammadiyah: Materi TWK KPK Tendensius

  • Whatsapp
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.

INDOPOLITIKA.COM – Munculnya pertanyaan tentang doa qunut dalam shalat pada Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam proses alih status Aparatur Sipil Negara (ASN) dinilai sangat tendensius.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti menilai, selama ini doa qunut telah menjadi khilafiah (perbedaan pendapat) di kalangan umat Islam. Terlebih, kata dia, sudah ada pengetahuan umum menyoal kelompok mana yang membaca qunut dan tidak saat shalat subuh.

Berita Lainnya

“Pertanyaan tentang qunut itu tendensius,’’ ujar dia dikutip dari Republika, Kamis (6/5/2021).

Menurut Mu’ti, membaca qunut atau tidak adalah masalah keyakinan individu, sehingga tidak perlu ditanyakan. Menyoal tes bagi ASN, qunut jelas Mu’ti, juga tidak berkesinambungan dengan integritas dan kinerja seorang ASN.

“Mestinya semua pertanyaan tetap difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan profesionalitas, integritas, dan kinerja,’’ kata dia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan menyindir, pertanyaan soal qunut seharusnya sudah selesai di sekolah dan hanya menjadi pilihan saat shalat. Sehingga, pertanyaan di TWK KPK itu dinilainya tidak relevan dan tidak kontekstual.

Alih-alih qunut, kata dia, bangsa Indonesia justru membutuhkan ASN yang sangat memahami konstitusi dan sejumlah aturan hingga Perundang-undangan serta teknis lainnya. “Dan ini harus menjadi fokus materi ujian. Sehingga, ASN kita kelak bisa menegakkan aturan untuk mencegah korupsi, di mana Indonesia sedang darurat korupsi,’’ kata Amirsyah.

Pakar Hukum Pidana Universitas Al-Azhar Indonesia, Suparji Ahmad meminta KPK menjelaskan urgensi adanya pertanyaan seperti doa qunut dan kapan akan menikah. Sebab, hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kinerja KPK.

“Seharusnya pertanyaan dalam tes memiliki proporsional dan relevan. Seperti ditanyakan seputar penanganan korupsi di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan. Itu harus bagaimana?” kata dia. [rif]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *