Aktivis Antikorupsi: Presiden Jokowi Punya Adab Sopan Santun Nggak Sih?

  • Whatsapp
irektur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Feri Amsari.

INDOPOLITIKA.COM- Direktur Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas Feri Amsari menyindir Presiden Jokowi lewat alasan ‘sopan santun’ yang beberapa hari lalu disampaikan Presiden Jokowi sehingga hari ini belum juga menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) terhadap Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK.

“Adab sopan santun Presiden ketika membahas revisi UU KPK itu ada atau tidak? Ketika kemudian partisipasi publik tidak dilibatkan, dan KPK sendiri sebagai lembaga yang konon katanya dianggap sebagai lembaga eksekutif, juga tidak dilibatkan presiden pada pembahasan,” kata Feri di Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta, Minggu (3/11).

Baca Juga:

Feri datang mewakili koalisi sipil ‘Save KPK’ juga mempertanyakan kesopanan Jokowi yang meloloskan revisi UU KPK meski sebagian besar anggota dewan bolos. Ia mencatat hanya 107 orang yang hadir saat pengesahan revisi UU KPK. Sementara ada 182 orang yang tak hadir, tapi tercatat dalam daftar hadir.

Dia juga mempertanyakan adab ketatanegaraan Jokowi yang sempat menjanjikan Perppu KPK usai bertemu beberapa tokoh bangsa. Pertemuan itu digelar setelah pemerintah didesak serangkaian aksi unjuk rasa yang dimotori mahasiswa.

“Apakah Presiden bisa dianggap sopan ketika berjanji akan mempertimbangkan terbitnya Perppu dan segera memberi tahu tokoh-tokoh senior itu apa yang jadi pilihannya. Sampai hari ini tidak dikasih tahu, disampaikan hanya melalui media,” ujarnya.

Feri juga mempertanyakan adab tata negara Jokowi yang tetap meloloskan revisi UU KPK meski tahu akan terjadi pelemahan. Salah satunya dewan pengawas KPK yang ditunjuk langsung oleh presiden dan berperan besar dalam sejumlah fungsi KPK versi UU Nomor 19 Tahun 2019. Terakhir, Feri mempertanyakan adab Jokowi yang tak menghiraukan kematian lima orang pemuda saat aksi unjuk rasa September 2019.

Lima orang itu adalah Immawan Randi dan Yusuf Kardawi yang merupakan mahasiswa Universitas Halu Oleo. Kemudian pemuda Tanah Abang Maulana Suryadi serta dua pelajar Akbar Alamsyah dan Bagus Putra Mahendra.

“Saya tidak pernah mendengar Presiden tiba-tiba ngomong tunggulah dulu ini revisi dijalankan, penomoran dan sebagainya, tunggulah pengesahan karena ada lima nyawa menjadi korban. Saya tidak melihat ada adab sopan santun terhadap nyawa anak bangsa,” ucap Feri.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengungkapkan alasannya mengapa hingga hari ini pemerintah belum juga menerbitkan Perppu KPK. Presiden merasa tak elok jika dirinya mengeluarkan sebuah peraturan, sementara proses uji materi di MK masih berlangsung. Menurutnya, sikap ini adalah bagian dari sopan santun dalam bertata negara.

“Jangan ada, orang yang masih berproses, uji materi kemudian langsung ditimpa dengan sebuah keputusan yang lain. Saya kira kita harus tahu sopan santun dalam bertata negara,” ujar Jokowi saat berbincang dengan wartawan, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11).[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *