Jadi Tersangka Diancam Enam Tahun Penjara

Aktivis Papua Yang Diduga Jadi Provokator Diburu Interpol

  • Whatsapp
Aktivis Papua Veronica Koman (kanan)

INDOPOLITIKA- Aktivis pembebesan Papua Veronica Koman (VK) diburu interpol pasca ditetapkan sebagai tersangka kasus provokasi di asrama mahasiswa Papua, Surabaya, Jawa Timur. Kuasa Hukum Komite Nasional Papua Barat (KNPB) itu kini menjadi buron interpol lantaran saat ini tengah berada di luar negeri.

“Nanti interpol akan membantu untuk melacak yang bersangkutan sekaligus untuk proses penegakan hukumnya,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetya di Bareskrim Polri, Rabu (4/9).

Baca Juga:

Jenderal Dedi menjelaskan, Veronica ditetapkan sebagai tersangka karena terlibat aktif menyebarkan informasi di media sosial lewat akun twitter pribadinya, @VeronicaKoman terkait insiden di asrama mahasiswa Papua.

“Lewat akun twitternya yang bersangkkutan terus menyampaikan narasi-narasi, foto, video, baik bersifat provokatif maupun berita-berita hoaks,” tambah Dedi.

Sebelumnya Kepolisian Daerah Jawa timur telah melakukan gelar perkara dan pemeriksaan terhadap enam orang saksi yakni; tiga saksi peristiwa dan sisanya saksi ahli. VK pun sudah beberapa kali dipanggil oleh kepolisaan namun selalu absen.

“Setelah pendalaman dari media, hasil dari HP dan pengaduan dari masyarakat, VK ini salah satu yang sangat aktif membuat provokasi di dalam maupun di luar negeri untuk menyebarkan hoax dan juga provokasi. Akhirnya dari hasil pemeriksaan itu VK ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan.

Terkait insiden di asrama mahasiswa Papua, diakui Jenderal Luki, memang VK tak ada di lokasi kejadian. Namun lewat akun twitternya VK aktif menyebarkan hoax dan melakukan provokasi. “Salah satu cuitnya bahkan ada seruan mobilisasi aksi monyet,” imbuh Luki.

Selain itu cuitan  itu, Jenderal Luki juga mengungkapkan beberapa cuitan Veronica lainnya yang dinilai sebagai bentuk provokasi.

“Ada lagi tulisan momen polisi mulai tembak ke dalam, ke asrama papua, total 23 tembakan termasuk gas air mata, anak-anak tidak makan selama 24 jam haus dan terkurung, disuruh keluar ke lautan massa. Kemudian ada lagi 43 mahasiswa papua ditangkap tanpa alasan yang jelas 5 terluka, 1 kena tembakan gas air mata, dan semua kalimat-kalimat selalu diinikan (terjemahkan) dengan bahasa Inggris,” lanjutnya.

Ihwal perkara tersebut VK disangkakan dengan pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 160 KUHP tentang penghasutan di muka umum baik lewat lisan maupun tulisan. Ancaman pidananya paling lama enam tahun.

Seperti diketahui, pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya terjadi pada Agustus lalu. Kala itu, warga dan sejumlah anggota ormas mendapat informasi dari media sosial bahwa bendera Merah Putih dibuang ke selokan air oleh mahasiswa Papua.

Tak lama, asrama mahasiswa Papua dikepung warga dan anggota ormas. Setibanya massa di asrama, ternyata tidak ada bendera Merah Putih yang dibuang ke selokan.

Massa yang tidak puas meminta para mahasiswa Papua keluar dari asrama. Mahasiswa bergeming. Mereka tidak mau menuruti kemauan massa dan mengurung diri dalam asmara.

Hingga kemudian, datang aparat keamanan. Para mahasiswa sempat ditembakkan gas air mata saat berada di dalam asrama. Itu dilakukan kepolisian agar para mahasiswa keluar dari asrama dan menjalani pemeriksaan. Para mahasiswa akhirnya keluar dan diperiksa polisi. Setelah itu, para mahasiswa dipulangkan kembali ke asrama.

Insiden pengepungan itu juga diwarnai oleh pernyataan rasialisme. Videonya beredar di media sosial. Ujaran rasialisme itu memantik aksi protes di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat. Masyarakat meminta agar oknum yang melontarkan ujaran rasialisme diusut tuntas.

Aksi protes tidak hanya berupa unjuk rasa. Di beberapa tempat, misalnya di Sorong, Papua Barat dan Jayapura, Papua, berujung perusakan bangunan komersial dan fasilitas publik. Sejauh ini, polisi telah menetapkan 68 tersangka atas sejumlah perisitwa yang terjadi sejak pertengahan Agustus lalu.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *