Oleh: Fendry Akhyar Ariefuzzaman, S.Sos
(Alumni Jurusan Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta)

Pertanyaan tentang kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga bukan lagi sekadar wacana fiksi geopolitik. Pada beberapa waktu terakhir, perilaku agresif Amerika Serikat—baik dalam bentuk serangan militer langsung, ancaman terbuka, maupun intervensi terhadap negara-negara berdaulat—menunjukkan pembangkangan terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hukum internasional.

Tindakan-tindakan tersebut tidak bisa dilihat sebagai respons spontan atau sekadar kesalahan kebijakan. Justru, ada indikasi kuat bahwa agresivitas itu merupakan strategi sadar untuk menegaskan satu pesan utama kepada dunia: Amerika Serikat masih dan ingin tetap menjadi negara terkuat di muka bumi—dan siap menantang siapa pun yang berani melawan.

Karena Tinggal Militer Satu-satunya Simbol Superioritas

Dalam banyak aspek—ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi—Amerika Serikat semakin menyadari bahwa posisinya sebagai kiblat dunia tidak lagi mutlak. Kebangkitan China, ketahanan Rusia, serta kemandirian negara-negara Global South membuat dominasi Amerika tidak lagi absolut seperti pasca-Perang Dingin.

Di tengah realitas itu, kekuatan tinggal kekuatan militer menjadi satu-satunya instrumen supremasi yang masih dapat mereka banggakan. Dengan memamerkan arogansi militer yang luar biasa, Amerika seolah ingin mengatakan bahwa siapa pun—termasuk Rusia, China, bahkan sekutu tradisionalnya seperti Inggris, Prancis, dan Jerman—tidak boleh bermimpi menantang dominasi Washington.

Presiden Donald Trump, dengan latar belakangnya sebagai pebisnis, memahami satu hal dengan sangat baik: kekuatan militer bukan hanya alat politik, tetapi juga komoditas ekonomi. Konflik menciptakan pasar—dari industri senjata, kontrak militer, hingga pengaruh geopolitik. Bahkan dengan kekuatan militer, Trump mencaplok dan mengendalikan sumber kekayaan negara lain, bisnis negara berdaulat diambil alih seenaknya. Penjajahan gaya baru terjadi, kolonialsme ekonomi hidup kembali.

Dunia yang Terprovokasi, Aliansi yang Kembali Terbentuk

Arogansi Trump dan Amerika bukan tanpa konsekuensi. Justru tindakan agresif Amerika itu berpotensi memantik kemarahan global dan mendorong negara-negara lain melakukan belanja militer besar-besaran. Kubu-kubu kekuatan akan kembali terbentuk, dan aliansi pertahanan lintas negara—yang sempat melemah—akan hidup kembali.

Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara, sekuat apa pun, yang mampu menghadapi seluruh dunia secara bersamaan. Jika Amerika Serikat sampai berhadapan dengan koalisi global yang solid, maka hanya ada dua kemungkinan: Amerika hancur, atau semuanya hancur.

Jalan Politik atau Jalan Perang

Satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat menghentikan langkah agresif Amerika Serikat adalah dinamika politik dalam negerinya sendiri. Tekanan publik, oposisi politik, dan kesadaran moral masyarakat Amerika menjadi harapan terakhir untuk membendung eskalasi global.

Dari luar negeri, opsi yang tersedia jauh lebih berbahaya. Ketika diplomasi gagal, yang tersisa hanyalah peningkatan eskalasi permusuhan—dan pada akhirnya, perang terbuka.

Jika konflik besar menyeret Rusia, China, dan negara-negara anti-Amerika ke dalam satu barisan, maka sulit menyangkal bahwa Perang Dunia Ketiga akan menjadi kenyataan. Dampaknya bukan sekadar kehancuran regional, melainkan kehancuran total tatanan dunia. Peradaban manusia bisa terlempar kembali ke era gelap, bahkan menuju kepunahan.

Harapan Terakhir

Semoga para pemimpin dunia bisa menyadari dengan cepat situasi ini. Donald Trump harus disadarkan. Dan aktor-aktor internasional global harus membangun kesadaran global bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan menghancurkan, melainkan kemampuan menahan diri. Dunia tidak membutuhkan unjuk kekuatan, tetapi keberanian untuk duduk bersama, berdialog, dan membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Karena keadaan perang, jelas tidak akan ada pemenangnya, yang ada hanyalah manusia yang kalah bersama-sama.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com