Anak Buah Prabowo, Minta Mentan Yasin Limpo Akui Data Luas Lahas Hasil Rilis BPS

  • Whatsapp
Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo
Menteri Pertaniam Syahrul Yasin Limpo

INDOPOLITIKA.COM- Anak buah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto di DPR sodorkan kenyataan pahit kepada Menteri Pertanian baru Syahrul Yasin Limpo dari data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait kenyataan adanya penurunan luas lahan baku sawah yang berpotensi menurunkan hasil panen padi.

Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Darori Wonodipuro menyakini data yang disajikan BPS terkait luas lahan sawah sudah melalui kajian dan pertimbangan yang matang.

Baca Juga:

“Apapun yang dikeluarkan oleh BPS itu, salah atau benar harus kita akui, karena itu sudah melalui kajian dan pertimbangan para pakar,” kata Darori dalam pernyataan di Jakarta, Minggu (27/10/2019).

Darori mengatakan data yang berasal dari pemerintah tersebut seharusnya tidak perlu dipertanyakan akurasinya lagi. Karena telah dilakukan melalui metodologi yang tepat. Untuk itu, menurut dia, tudingan yang menyebutkan  data BPS tidak akurat itu mengada-ada dan tidak berdasar.

Menurut dia, Menteri Yasin Limpo, menggunakan data tersebut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat terkait kebijakan pangan.

Seperti diketahui sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berharap ke depan tak ada lagi perdebatan soal perbedaan data pangan antarkementerian dan lembaga. Dia berharap, kementerian lembaga yang terlibat dalam penyusunan data, terutama BPS, Badan Informasi Geospasial, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, serta Kementan harus memiliki pandang sama.

“Datanya harus satu, yang keluarkan BPS tapi harus dikalrifikasi semua kementerian. Jangan ada data pertanian yang lain lagi. Data pertanian ada di BPS,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian 2014-2019 Andi Amran Sulaiman meragukan data pangan yang dirilis BPS menggunakan metode kerangka sampel area (KSA) dari citra satelit. Menurut dia salah yang dirilis itu salah.

Data tersebut memang diambil menggunakan citra satelit, namun dinilai Amran tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan. “Setelah dikroscek, 92 persen sampel data pangan yang diambil itu salah. Ini berbahaya, harus diperbaiki,” kata dia.

Data tersebut, dijelaskan Amran, terutama untuk komoditas padi yang menghasilkan proyeksi data luas tanam, luas panen, serta produksi. Data dari keempat lembaga di atas setelah dievaluasi bersama, ternyata ada perbedaan antara data citra satelit dengan kondisi riil. Contohnya data pertanaman sawah di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan yang oleh citra satelit dinyatakan nol hektare, ternyata secara riil ada pertanaman 9,700 hektare.

Amran menyebut total terdapat sekitar 600 ribu hektare luas pertanaman padi yang tidak terekam. Perbedaan ini akan berdampak pada bantuan subsisi pupuk yang diberikan kepada petani. Sebab, alokasi besaran anggaran bantuan subsidi disesuaikan dengan kebutuhan petani dan luas pertanaman yang tergambar dalam citra satelit.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *