Pemerintahan

Anak Muda Berperan Penting Sukseskan Pembangunan Berkelanjutan

DEPOK –  Keterlibatan anak muda dalam pembangunan ‘Revolusi 4.0’ sangat penting, terutama karena anak muda sangat paham dengan teknologi digital. Namun, pekerjaan rumahnya adalah, bagaimana kita mengkapitalisasi kemampuan itu ke tingkat yang lebih kompetitif di level nasional dan global.

Pernyataan itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kedeputian II Kantor Staf Presiden Abetnego Tarigan saat memberikan pidato kunci dalam diskusi anak muda bertajuk ‘Indonesia-Dutch Youth Dialogue for Sustainable Future II’ yang diselenggarakan UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN) Youth Indonesia dan Pemerintah Belanda di Depok, Jum’at 27 April 2018. Forum ini merupakan ajang diskusi bagi komunitas anak muda yang berkecimpung dalam sektor-sektor yang mendukung pelaksanaan SDGs (Sustainable Development Goals/Tujuan Pembangunan Berkelanjutan) di Indonesia.

Abetnego memaparkan, sejak tahun 2015 pasca selesainya MDGs atau Tujuan Pembangunan Milenium, Kantor Staf Presiden mendorong keterlibatan pemerintah yang lebih aktif dalam menggandeng aktor-aktor pembangunan non-pemerintah. Perlu diakui bahwa selama ini, keterlibatan pemuda perlu lebih disinergikan oleh para aktor pembangunan.

“Mitra pembangunan, yang juga banyak dibantu oleh Pemerintah Belanda, bisa turut membantu pemerintah pusat di level Kementerian/Lembaga, dan terutama pemerintah daerah dengan unit-unit kerjanya, untuk dapat membuat SDGs hub, dengan desk khusus anak muda di dalamnya,” kata Abetnego.

Ia melanjutkan, anak muda memerankan peranan penting untuk mendorong pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs yang lebih progresif dan inovatif. Selain juga untuk membuktikan bahwa slogan SDGs, yaitu ‘no one leave behind’ benar-benar dilaksanakan dalam proses pelaksanaan TPB. Abetnego juga menekankan pentingnya keselarasan dalam ‘ritme’ pelaksanaan SDGs di Indonesia antar aktor pembangunan.

“Apakah ada satu pihak duluan dan berharap bisa secara otomatis menarik yang lainnya? Dengan ritme yang sekarang, apakah sudah ‘kolosal’ membunyikan SDGs ini sebagai gerakan bersama? Fokus juga pada ‘ritme’ keterlibatan para aktor SDGs, dalam hal ini anak muda, bukan hanya fokus pada isu dan masalah substansi sektornya,” katanya.

Sebagai penutup dan penyemangat dalam forum, Abetnego menyatakan kesiapan Indonesia untuk bekerjasama dengan semua pihak dalam menyukseskan pelaksanaan SDGs dan mengutip petuah dari tokoh bangsa, Tan Malaka, “Jika kaum muda menganggap dirinya terlalu pintar dan tinggi untuk bekerja bersama dengan masyarakat, lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Tags

Artikel Terkait

Close
Close