Analogi Soal Musa Datangi Firaun Dikritik MUI dan PBNU, Begini Penjelasan Abdullah Hehamahua

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Pernyataan Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) laskar FPI, Abdullah Hehamahua yang menganalogikan pertemuan timnya dengan Presiden Joko Widodo di Istana seperti Nabi Musa mendatangi Firaun menuai kontroversi.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengatakan analogi Hehamahua tidak pantas menyamai Presiden Jokowi dengan Fir’aun. Sebab Jokowi beragama Islam.

Berita Lainnya

“Musa itu nabi dan yang ketemu dengan Jokowi itu bukan nabi. Jokowi itu orang Islam percaya kepada Allah SWT. Beliau salat dan bayar zakat serta percaya kepada hari akhir. Firaun tidak,” kata Anwar dikutip Jumat (16/4/2021) dari Fajar.co.id.

Ia menegaskan tak seharusnya Abdullah mengibaratkan pemerintah sebagai Firaun karena sudah dipilih berdasarkan pemilihan umum yang sah. Anwar Abbas melihat pertemuan itu hanya dilakukan oleh kelompok masyarakat dengan pemerintah. Bukan malah merasa diri seperti Nabi Musa bertemu Fir’aun.

Senada dengan itu, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas menegaskan tak seharusnya Abdullah mengibaratkan pemerintah sebagai Firaun karena sudah dipilih berdasarkan pemilihan umum yang sah.

“Dengan demikian, pemerintahan yang dibentuk melalui mekanisme pemilihan yang sah juga sah dan bukan thoghut. Karena itu tidak boleh mengasosikannya sebagai Firaun,” kata Robikin dalam keterangan resminya.

Mendapat respon tersebut, Abdullah Hehamahua menegaskan bahwa pernyataan soal pertemuan timnya di Istana Negara ibarat Nabi Musa bertemu Firaun hanya sekadar analogi.

Ia menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo secara pribadi bukan Firaun seperti yang menjadi analoginya tersebut.

“Dalam keterangan saya itu analogi. Bukan berarti Jokowi Firaun. Tapi kalau ada yang disebutkan Jokowi bukan thogut, kan saya gak bilang Jokowi thogut,” kata Abdullah dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (16/4/2021).

Ia lantas berdalih bahwa analogi tersebut terkait dengan status penguasa suatu wilayah. Abdullah melihat bahwa Firaun zaman dulu merupakan penguasa Mesir. Sama seperti Jokowi yang merupakan status penguasa Indonesia saat ini.

Tak hanya itu, ia juga menjelaskan analogi itu tercetus ketika beberapa anggota TP3 ada yang berselisih pendapat terkait rencana pertemuan di Istana.

“Maka ketika kita mau ketemu ke sana (Istana) ada yang enggak setuju dan segala macam. Ya udah sehingga timbul, sudah kita ikut cara Musa diperintahkan datang ke Firaun. Kita datang secara baik,” dalihnya.

Selain itu, Abdullah juga menyinggung bahwa pertemuan dengan Jokowi kala itu sebagai upaya TP3 menguak tewasnya enam laskar FPI. Menurutnya, tewasnya enam laskar sebagai bentuk pelanggaran pidana HAM berat yang harus diselesaikan secara komprehensif.

“Kan sekarang dianggap pidana biasa. Maka ketika Komnas HAM, polisi anggap pelanggaran ham biasa ini persoalan serius buat TP3,” demikian Abdullah. [rif]

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *