Survei

Anggota Dewan Etik Persepi Tanggapi Survei PPPP Amerika yang Menangkan Prabowo

Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi), Hamdi Muluk mengaku belum pernah mendengar lembaga survei asal Amerika Serikat yang bernama Precision Public Policy Polling (PPPP). Lembaga survei tersebut saat ini turut meramaikan kontestasi pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di Indonesia.

“Nggak pernah dengar saya [PPPP], karena sekarang [pemilu] banyak tiba-tiba [lembaga survei] yang baru. Saya bilang itu lembaga survei tibad alias tiba-tiba ada,” ujar Hamdi seperti dikutip dari Tirto, Selasa (9/4/2019) sambil tertawa.

Dirinya pun mempertanyakan metodologi sampling apa yang digunakan oleh lembaga survei PPPP. Jika dari Amerika Serikat, kata Hamdi, kemungkinan melakukan survei melalui telepon. “Pakai apa dia, telpon. Kalau telpon kan hanya ada di buku telpon saja [samplingnya],” ucapnya.

Sehingga ia pun mengimbau sebelum percaya terhadap suatu lembaga survei, apalagi dari luar negeri, agar mencari tahu terlebih dahulu rekam jejaknya.

“Karena banyak lembaga survei yang hanya untuk menggiring opini masyarakat, datanya dibuat-buat saja,” ucapnya.

Pada survei PPPP, disebutkan bahwa 54 persen responden menginginkan presiden baru dan yang masih menginginkan Joko Widodo kembali jadi presiden sebesar 37 persen. Sementara 9 persen responden tidak memberikan jawaban. Kemudian, ketika ditanyakan siapa kandidat yang akan dipilih jika pemilihan dilakukan saat survei dilaksanakan, 38 persen responden memiilih nama Joko Widodo (Jokowi). Sementara yang memilih Prabowo sebanyak 40 persen dan sisanya menyatakan belum dapat memutuskan. Menurutnya, angka tersebut tidak logis, karena sebelumnya Jokowi-Ma’ruf unggul belasan persen. Tetapi tiba-tiba sekarang Prabowo-Sandi malah balik mengungguli capres-cawapres petahana itu.

“Kalau opini itu berubah cepat, [elektabilitas] tidak bisa berubah drastis. Tadi [Prabowo-Sandi] kalah belasan persen, sekarang unggul sekian persen. Itu kan seakan-akan sikap masyarakat berubah drastis,” kata Hamdi.

Sehingga ia pun mempertanyakan faktor apa yang membuat opini masyarakat berubah dratis sehingga elektabilitas Prabowo-Sandi mampu menyalip Jokowi-Ma’ruf.

“Kalau yang merubah masyarakat itu kalau ada kejadian drastis dan ada sentimen-sentimen negatif, seperti kasus Ahok dulu. Pas mencuat kasus pulau seribu, tadinya survei Ahok unggul, tiba-tiba kalah. Kalau saya lihat hal seperti itu [saat ini] tidak ada,” pungkasnya.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close