Angka Perceraian di Kota Semarang Tinggi, Setiap Hari Ada 300 an Lebih Janda Baru

  • Whatsapp
Ketua Pengadilan Agama Kelas 1 A Semarang, Anis Fuad.

INDOPOLITIKA.COM – Angka perceraian  di Kota Semarang dalam tiga tahun terakhir cukup tinggi. Sejak tahun 2017 hingga 2019 ini, angka perceraian di kota tersebut relative tidak mengalami penurunan. Bahkan jika dirata-ratakan per hari selama 2019 ini, ada 300 lebih wanita yang berstatus janda baru.

Berdasarkan data Pengadilan Agama Kelas 1A Semarang selama 10 bulan mulai Januari- Oktober terdapat 3.193 perkara yang telah diputus. Jika dirata- rata tiap hari terdapat 319 Janda Baru di kota lumpia ini. Dengan rincian 621 untuk cerai talak dan 1.937 cerai gugat.

Baca Juga:

Sementara pada periode Januari-Desember 2018 terdapat 3.534 gugatan cerai. Jumlah tersebut, berdasarkan data yang dihimpun pihak Pengadilan Agama setempat mengalami lonjakan sekitar 300 perkara ketimbang kondisi 2017 silam hanya ada 3.253 perkara.

Ketua Pengadilan Agama Kelas I A Semarang, Anis Fuad menyebut faktor pemicu tiap tahunnya hampir sama, yakni ekonomi dan pendidikan. “Dengan pendidikan rendah emosionalnya tinggi dari pada rasionalnya.Perkara yang diajukan rata rata gugat cerai , istrinya yang mengajukan karena engga ada tanggungjawab dari suami ga ada,” katanya.

Menurut dia, pihaknya selama ini tetap mengupayakan menempuh jalur mediasi untuk menekan angka perceraian di Kota Semarang. Akan tetapi, mediasi itu kerap menemui jalan buntu lantaran terbentur masalah yang kompleks antarkedua belah pihak.

“Kita selalu cari jalan keluar supaya perkara itu bisa selesai secara damai. Tidak jadi cerai. Cuma ya memang banyak hambatannya. Mulai dari tingkat pendidikan penguggat yang rendah, pengetahuan agama yang kurang, hingga masalah ekonomi,” ujar Anis.

Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama  Kota Semarang, Tazkiyaturrobihah menambahkan faktor pemicu utama perceraian adalah pertengkaran yang dapat disebabkan oleh berbagai hal.  Diantaranya pernikahan dini, pendidikan rendah serta faktor ekonomi.

“Kalau faktornya sebenarnya pertengkaran tapi sub-faktornya dia belum siap, ekonomi. Dihadapkan pada persoalan hidup tapi belum mapan pastikan emosi terus bertengkar. Akhinya ga bisa cari jalan keluar jadi pilih bercerai saja. Memang ga semua kasus begitu tapi rata–rata begitu,” tandasnya.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *