Anomali Perilaku Umat di Bulan Ramadhan

  • Whatsapp
Achmad Fachrudin, Pendiri dan Pembina Literasi Demokrasi Indonesia

Bulan ramadhan disebut pula dengan bulan Al-Qur’an (syahrul Qur’an). Hal ini disebabkan karena di bulan ramadhan diturunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup dan kehidupan umat Islam. Hanya saja terjadi  banyak anomali, paradoks  dan distorsi di kalangan umat Islam dalam memaknai dan merealisasikannya. Hal ini berakibat umat belum sepenuhnya beroleh dampak positif dari nilai dan  spirit  ramadhan.

Sesungguhnya bulan ramadhan mengundung banyak ajaran dan nilai-nilai positif, yang bisa diklasterkan ke dalam simpul transendensi, humanisasi, liberasi dan modernitas. Keempat simpul tersebut dapat dikonstruksikan  antara  lain  pertama, ramadhan merupakan instrumen meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183.

Berita Lainnya

Kedua, melatih perilaku  ihsan. Yakni: sikap ikhlas dalam menyembah Allah SWT. Yang ditamsilkan dalam frasa “sembahlah Allah SWT seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” (Hadist Riwayat  Bukhari dan Muslim). Dalam bahasa lain, perilaku ihsan bisa disinonimkan dengan sikap jujur (honesty) atau dapat dipercaya (trusted).

Ketiga,  bulan ramadhan instrumen pemanusiaan manusia (humanisasi) agar tidak terjebak dan terprosok pada dehumanisasi. Jika hal tersebut berhasil dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, bukan saja Allah SWT akan mengampuni dari  segala dosa-dosanya yang terdahulu. (HR. Bukhari dan Muslim). Di akhir ramadhan atau saat Idul Fitri, manusia tersebut dikembalikan ke  fitrah (kesucian). Bagaikan bayi baru lahir ke dunia, tanpa dosa.

Keempat, puasa di bulan ramadhan mengandung nilai, spirit dan etos modernitas. Hal ini ditandai dengan larangan sementara waktu dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari untuk makan, minum, berhubungan suami istri. Spirit modernitasnya terletak pada pesan moral untuk menunda kesenangan sesaat untuk menggapai kebahagiaan yang abadi yang disimbolisasikan  dengan menyegerakan berbuka puasa (tajil dan iftar).

Kelima, setarikan nafas dengan itu,  bulan ramadhan melatih disiplin melalui perintah memulai berpuasa sejak terbit matahari dan berbuka puasa saat bedug magrib. Tidak boleh di luar waktu tersebut. Atau ditunda di luar waktu, kecuali dalam keadaan darurat atau sakit. Ini anjuran untuk disiplin waktu dan menghargai proses karena proses akan menentukan hasil.

Keenam, bulan ramadhan dengan perintah wajib bagi setiap individu muslim  dalam menunaikan zakat mengandung instrumen liberasi atau hurriyyah (pembebasan) bagi manusia lainnya. Sebab, “pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”  (QS. Adz-Dzariyat: 19).

Ketujuh, bulan ramadhan dapat menjadi instrumen pembentukan sifat dan perilaku positif, kreatif dan inovatif. Hal ini bukan hanya aktivitas yang berkaitan dimensi transendental, seperti  membaca Al-Qur’an, ahalat malam, zikir dan sebagainya. Juga terkait dengan aktivitas non transendental, seperti sektor ekonomi kreatif dan produktif. Termasuk dalam penggunaan teknologi digital atau gadget untuk berbagai kebutuhan umat manusia.

Perilaku Anomali

Problematikanya seperti biasa dan lumrah terjadi pada diri sebagian umat adalah terjadinya anomali. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata anomali dapat diartikan dengan sebuah ketidaknormalan, keganjilan, keanehan, atau penyimpangan dari keadaan biasa (normal) yang berbeda dari kondisi umum suatu lingkungan. Anomali juga sering disebut sebagai suatu kejadian yang tidak bisa diperkirakan sehingga sesuatu yang terjadi akan berubah-ubah dari kejadian biasanya. (https://id.wikipedia.org).

Anomali terjadi di pelbagai aspek kehidupan. Secara umum dapat diformulasikan dalam frasa bahwa “makna transendensi atau makna esoteris dari bulan ramadhan belum sepenuhnya terwujud perilaku secara nyata dalam kehidupan keseharian umat pada aspek eksoteris, modernitas, liberalitas, humanitas, dan sebagainya”.

Prilaku anomali,  meminjam pendapat  Haedar Nashir,  ibarat dramaturgi, sesuatu yang semu laksana permainan sandiwara di panggung. Mirip dramaturgi, Erving Goffman dalam Presentation of Self in Everyday Life (1959).  Dimana  seseorang akan menampilkan presentasi diri di depan pentas yang serba-termanipulasi, baik diri maupun segala aksesorinya, sehingga memuaskan penonton atau khalayak umum. Sementara, di belakang panggung, semua drama di pentas itu diatur dan dimanipulasi sedemikian rupa, yang tentu saja kata Nashir lagi,  publik tidak mengetahui perangai yang sesungguhnya.

Bentuk-bentuk nyata dari anomali di bulan ramadhan adalah belum sepenuhnya terjadi kesepadanan antara kemeriahan dalam mensikapi bulan ramadhan dengan kedalaman, penghayatan dan perilaku nyata sebagian umat. Contohnya,  seperti  diilustrasikan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Biyanto, yakni: pertama prilaku boros dan konsumtif melalui kebisaan suka berbelanja secara berlebihan saat ramadhan.  Kedua perilaku tidak sabar. Ketiga, perilaku bermalas-malasan dengan alasan berpuasa.

Metafora lainnya untuk melukiskan masih terlalu menguatnya ritualitas umat di bulan ramadhan bisa ditambahkan dengan begitu cepatnya terjadi degradasi dalam frekuensi  melaksanakan shalat tarawih atau shalat subuh berjamaah di masjid. Bila di sekitar dua puluh hari di bulan ramadhan masjid penuh dengan jamaah, maka  di sepuluh hari akhirnya justeru umat ‘menyemut’ di pasar modern atau tradisional untuk memenuhi berbagai kebutuhan jelang dan saat Lebaran.

 Anomali Lainnya

Perilaku negatif lainnya atau keempat di bulan ramadhan makin meningkatnya intensitas penggunaan gatget khususnya di media sosial untuk hal-hal yang tidak positif dan produktif, atau sekadar ngabububurit. Bahkan tidak jarang digunakan untuk bergosip ria, menyebarkan informasi ujaran kebencian, hoaks, dan sebagainya. Dalam kontek ini ada trend, penggunaan gadget atau handphone untuk kegiatan positif dan produktif dari sisi ibadah atau keilmuwan masih kurang dibandingkan dengan yang negatif.

Pada saat yang sama, di bulan ramadhan pula terjadi trend komodifikasi siaran atau program bertajuk keagamaan/dakwah di kebanyakan televisi swasta, terutama dalam bentuk reality show. Padahal  isi siarannya didominasi  lawakan, joke, atau hiburan. Pada satu sisi hal ini sah-sah  saja karena mengandung unsur edukasi, dan tuntunan. Namun dampaknya, ramadhan lebih menonjol aspek tontonan atau hiburan. Maka fenomena merebaknya siaran televisi swasta di bulan ramadhan lebih tepat disebut sebagai dakwahtainment atau ramadhantaiment.

Satu paket dengan ramadhan adalah tradisi mudik jelang Idul Fitri yang juga banyak terjadi anomali. Pada dasarnya mudik mengandung unsur positif karena menjadi arena silaturahmi dengan sanak keluarga, teman dan handai taulan. Negatifnya, tidak jarang  harus menguras kocek sangat dalam  yang sudah susah payah dikumpulkan sebelum Idul Fitri sehingga paska Idul Fitri mengalami defisit keuangan. Bahkan sebagian pemudik rela melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Dalam pada itu, mudik dan Idul Fitri tidak jarang berubah menjadi instrumen reproduksi nilai, perilaku atau gaya hidup (life style)  negatif. Seperti  pamer kemewahan, materialisme, hedonisme di kampung halaman. Dampaknya menstimulus  masyarakat desa  untuk menjiplak untuk juga bersikap materialistik dan hedonistik dari orang kota (pemudik). Atau bermigrasi ke kota untuk menggapai sukses. Bahkan tanpa bekal keterampilan memadai, sekalipun.

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah nilai-nilai kejujuran yang menjadi salah satu esensi ramadhan belum sepenuhnya  build in  atau mengalami proses kulturisasi (culturized) dengan perilaku sebagian kaum puasa (shoimin), khususnya di kalangan elitnya. Hal ini dibuktikan dengan makin menguatnya hipokrisi yang dipertontonkan oleh sejumlah elit secara telanjang mata kepada publik. Hal ini bukan saja berdampak kepada terjadinya krisis keteladanan, juga terhadap krisis keberagamaan.

Perpendek Paradoks

Apa yang coba diilustrasikan secara sederhana tersebut telah berlangsung lama, dan mengalami involusi sedemikian rupa. Sehingga seolah-olah, sebagian umat  tidak pernah mampu belajar dengan sepenuh hati, semaksimal dan seefektif mungkin untuk melaksanakan ibadah puasa selama sekitar sebulan lamanya secara kalkulatif dan berkualitas untuk menjadikan ramadhan dan Idul Fitri sebagai instrumen transendensi, liberasi, humanisasi, modernisasi umat dan bangsa, dan sebagainya.

Sebulan lamanya (ramadhan) bukan jangka waktu yang sedikit, melainkan lama. Pada masa itu sebenarnya bisa banyak aktivitas dan prestasi yang dapat ditorehkan. Tetapi akhirnya terasa menjadi muspro, sia-sia atau kembali ke titik semula (seperti bukan bulan ramadhan) sebagai akibat kita acapkali gagal atau tidak mampu sepenuhnya mereguk hikmah terdalam dari bulan ramadhan untuk  perbaikan kualitas umat dan bangsa  dalam berbagai aspeknya.

Oleh karena kita tidak menginginkan ramadhan dan Idul Fitri tahun ini berlalu begitu saja, maka ikhtiar untuk memperkecil atau memperpendak anomali atau paradoks antara idealitas ramadhan dengan realitas prilaku sebagian umat yang masih cenderung negatif atau tidak mampu menangkap spirit ramadhan,  harus tetap dilakukan dan diamplifikasi dengan sungguh-sungguh, nyata, dan bertanggungjawab, baik  secara individu dan kolektif. Wallahu ‘alam bissawab. []

Achmad Fachrudin adalah
Kaprodi Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta

 

Berita Terkait


INDOPOLITIKA TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *