Capres

Apa Sih Kriteria Presiden yang Akan Anda Pilih Nanti?

Dua hari lagi, Rabu 9 April lusa, bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi: memilih wakil untuk duduk di kursi DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPR, dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Tentu kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa saat mencoblos atau memilih kandidat wakil rakyat sesungguhnya bukan sekadar ”mendudukkan” para calon anggota legislatif (caleg) itu agar memperoleh jabatan, kenyamanan, kehormatan, dan penghasilan besar.

Mereka kita pilih agar memperjuangkan nasib bangsa, memperbaiki kondisi rakyat Indonesia, dan yang terpenting mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu rakyat adil, makmur, dan sejahtera. Warga negara yang cerdas akan memilih caleg, kandidat wakil rakyat, yang terbaik untuk didudukkan di lembaga yang terhormat itu.

Mereka adalah tangan panjang kita untuk memperjuangkan hak-hak sebagai warga negara. Di tangan mereka urusan negara kita gantungkan. Karena itu, menjadi penting ketika mencoblos surat suara lusa mempertimbangkan betul kredibilitas caleg atau partai politik. Akan lebih afdal jika mengenal betul caleg macam apa yang akan dipilih itu.

Sulit memang karena pada kenyataanya mereka yang kita sangka pada awalnya adalah partai politik atau orang yang berintegritas, yang amanah, jujur, baik hati, tidak sombong, penuh perhatian pada konstituennya, setelah duduk nyaman di kursi parlemen ternyata menjadi pribadi yang berbeda, berubah, bahkan menjadi musuh bangsa karena betindak arogan, sewenang-wenang, dan korup.

Dari pemilihan umum (pemilu) ke pemilihan umum berikutnya, kualitas wakil rakyat yang dipilih bangsa ini nyatanya tidak juga membaik, kalau tidak boleh disebut kian buruk. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) dalam evaluasi terhadap kinerja semua anggota DPR periode 2009-2014 baru-baru ini menyatakan bahwa mulai dari laporan kekayaan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga keaktifan mereka di parlemen, mayoritas rapor anggota DPR sangat buruk.

Direktur Eksekutif Formappi Sebastian Salang lewat media massa menyebut pihaknya telah mengevaluasi DPR dengan penelitian. Bahan penelitian diperoleh dari dokumen kinerja 519 anggota DPR, 300 risalah rapat di setiap komisi, dan berdasarkan daftar hadir 635 rapat komisi.

Ratusan dokumen yang digunakan diambil pada masa kerja 2012. Pada tahun itulah kinerja anggota DPR paling tinggi, sementara pada 2014 kinerja mereka paling rendah. Dokumen selama satu tahun itu diolah selama 1,5 tahun menggunakan metode kualitatif dari pandangan pakar dan komparasi lembaga sejenis dari luar negeri.

Hasilnya, sebanyak 64 anggota DPR periode 2009-2014 tak melaporkan harta kekayaan mereka ke KPK hingga akhir masa tugas. Sepanjang 2012, hanya 197 anggota DPR yang daftar kehadirannya termasuk kategori cukup baik karena memiliki tingkat kehadiran 85 persen. Namun, 22 persen anggota DPR memiliki tingkat kehadiran yang sangat buruk.

Mayoritas anggota DPR atau 78,4 persen punya tingkat keaktifan berbicara dalam rapat di bawah kategori cukup baik. Hanya 10 anggota DPR yang aktif berbicara di setiap rapat komisi. Sebanyak 491 anggota DPR tak memiliki rumah aspirasi di daerah pemilihan (dapil) mereka.

Selain itu, 51 persen anggota DPR juga tidak melaporkan kegiatan mereka selama 2012. Kesimpulannya, berdasarkan rapor tersebut kualitas anggota DPR secara kumulatif adalah sangat buruk.

Akankah bangsa ini akan mengulang terus-menerus membuat kekeliruan, memilih wakil yang tak berintegritas dan berkualitas buruk seperti itu? Karena itu, jadilah pemilih cerdas. Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah pemilu legislatif lusa mempunyai keterkaitan dengan pemilihan presiden menjelang akhir tahun ini.

Presiden adalah figur sangat penting bagi bangsa ini. Karenanya, dalam proses pemilihannya pun kita tidak boleh keliru. Kriteria presiden yang bagaimana yang akan Anda pilih nanti, setidaknya sudah mulai bisa dirancang sejak di pemilu legislatif.

Partai apa sebaiknya yang dipilih sehingga akan mencalonkan presiden yang sesuai kriteria Anda. Hanya lewat partailah presiden nantinya bisa dicalonkan. Sosok yang seperti apa presiden yang Anda inginkan lima tahun mendatang?

Pertanyaan ini harus dijawab agar ketika memilih presiden nanti bukan asal-asalan, seperti memilih kucing di dalam karung, tidak jelas wujud dan bentuknya. Nasihat para orang tua, jangan memilih hanya karena faktor fisik dan pengamatan sekilas, misalnya karena ganteng, gagah, berwibawa, tampak lugu, kerempeng, murah senyum, dan sejenisnya.

Ini persoalan memilih pemimpin tertinggi sebuah negeri. Rekam jejak, catatan perjalanan hidup, karakter, kepribadian, adalah salah satu tolok ukur yang tepat pada saat menentukan memilih seorang pemimpin. Memang tidak ada manusia yang sempurna, namun setidaknya nilai-nilai ideal seorang pemimpin terdapat pada calon presiden yang hendak dipilih.

Pemimpin yang Baik

Berharap seorang pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan seperti Nabi Muhammad SAW tentu saja susah. Tapi, empat sifat Nabi Muhammad yaitu sidiq (benar/jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathonah (cerdas) setidaknya bisa menjadi acuan bahwa seorang pemimpin itu harus benar dalam bertindak, perkataannya jujur, bisa dipercaya, tidak mencederai janji, menyampaikan sesuatu dengan kebenaran, dan memiliki pengetahuan luas dan cerdas.

Di luar itu tentu banyak kriteria lain yang bisa dipersyaratkan bagi calon presiden Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, dan agama ini. Yang pasti, seorang pemimpin yang baik harus memiliki visi untuk mengentaskan bangsa ini dari keterpurukan.

Pemimpin yang baik harus pempunyai tekad kuat untuk mengubah bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera, adil, makmur, dan mandiri. Pemimpin yang baik adalah sosok yang bijak dan cerdas. Menjadi seorang pemimpin berarti bahwa ia dibutuhkan untuk membuat keputusan penting pada berbagai titik dalam pelayanan mereka.

Pemimpin yang baik harus memiliki kebijaksanaan untuk membuat keputusan yang tepat. Kemampuan ini sangat penting dalam memastikan keberhasilan organisasi (=negara). Dari berbagai pendapat pakar ilmu kepemimpinan, secara rinci menyatakan pemimpin sebuah negara harus orang yang penuh perhatian, karismatik, mampu berkomunikasi dengan baik, seorang yang gigih, pantang menyerah.

Selain itu, dia juga harus berintegritas, yaitu orang yang menepati janji, tidak memainkan permainan dua wajah dalam berpolitik. Tentu saja, masih ada sejumlah persyaratan baik secara pribadi maupun yang bersifat umum yang harus diketahui dan diputuskan para pemilih agar presiden pilihan mereka sesuai dengan harapan.

Pastikan bahwa presiden yang Anda pilih bukan hanya orang yang perkataannya benar, tapi juga meyakini bahwa perbuatannya benar. Perbuatannya harus sejalan dengan ucapannya. Sebab, pemimpin sekarang ini kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya beda betul dengan yang dia katakan. Kalau sekarang sudah tersedia yang seperti itu… abaikan. (sp/IP)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close