Arcandra Tahar: Bioenergi Masa Depan Energi Indonesia

  • Whatsapp
Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar (ist)

Hingga saat ini Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil sebagai basis sumber energi. Mengatasi hal itu, sejak jauh hari pemerintah mencari alternatif lain. Hal itu tertuang dalam  Perpres No.5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Ditetapkan bahwa Rencana Pengelolaan Energi Nasional adalah mengembangkan energi mix primer pada tahun 2025, dimana sebanyak 23 persen energi nasional berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan 8,3 persen berasal dari bioenergi.

Saat ini, bioenergi yang berhasil dikembangkan Indonesia salah satunya adalah biodiesel. Inilah sumber energi baru terbarukan, demikian Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, akan berperan besar dalam kebutuhan energi Indonesia di masa depan. Pemanfaatan biodisel, akan berperan yatama dalam mengurangi  impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

Muat Lebih

“Saat ini, uji coba penggunaan B30 sedang berlangsung dan diharapkan dapat mengurangi impor BBM. Dengan energi ramah lingkungan ini, rantai suplai yang dari luar negeri sudah bisa kita eliminasi. Kita mampu menghasilkan kebutuhan energi kita yang berasal dari kemampuan dalam negeri”, terang Arcandra pada Workshop Pemanfaatan Minyak Sawit Untuk Green Fuel Dalam Mendukung ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani Sawit di Auditorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (16/7/2019). Arcandra menjelaskan kebutuhan solar dalam negeri sekitar 30 juta kilo liter setahun. Dengan pemanfaatan biodiesel saat ini (B20), sekitar 6 juta kilo liter FAME dapat menggantikan solar. Hal ini diyakini dapat menghemat hingga USD 3 miliar.

Ia menegaskan perlu adanya usaha terus menerus untuk mengurangi impor BBM dalam negeri. Seiring pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan BBM terus meningkat dan jika tidak diimbangi dengan ketersediaan di dalam negeri maka kebutuhan impor akan membesar.

“Hari demi hari impor kita akan membesar kalau kita tidak ada usaha untuk menguranginya. Sekitar 36 juta dollar per hari kita impor, setahun sekitar 10 atau 11 miliar dollar kita impor. Kalau dengan adanya pertumbuhan, maka 11 miliar dollar ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun”, terang Arcandra,

Di sisi lain, di hulu migas upaya terus dilakukan Pemerintah dalam memperbaiki iklim sektor ESDM. Arcandra menerangkan bahwa sebelumnya di tahun 2015 dan 2016 lelang blok migas yang masih menggunakan skema cost recovery tidak ada yang laku. Namun di 2017, skema cost recovery diubah menjadi gross split dan 5 blok eksplorasi langsung diminati oleh investor yang disusul kemudian di 2018 terdapat 9 blok migas yang diminati.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *