Internasional

AS Kembali Tegaskan Korut Harus Jalankan Denuklirisasi

Pertemuan antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (Foto: AFP).

Washington: Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa rezim perdamaian dengan Korea Utara (Korut) akan terealisasikan hanya setelah Pyongyang melucuti program senjata nuklirnya.
 
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS dilontarkan karena perundingan denuklirisasi terhenti di tengah tuntutan Korea Utara untuk mengakhiri Perang Korea 1950-53 secara resmi.
 
Konflik dimana AS dan Korea Selatan (Korsel) berperang bersama melawan Korut, bukan berakhir dengan perjanjian damai melainkan gencatan senjata. Kondisi itu membuat kedua belah pihak secara teknis berperang.
 
"Perdamaian di Semenanjung Korea adalah tujuan yang ingin digapai. Namun masyarakat internasional telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima Korut dengan senjata nuklir," kata juru bicara tersebut, kepada Yonhap yang dikutip The Straits Times, Selasa 24 Juli 2018.
 
"Seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, kami berkomitmen untuk membangun mekanisme perdamaian dengan tujuan mengganti perjanjian gencatan senjata ketika Korea Utara sudah melakukan denuklirisasi," ucapnya menambahkan.
 
Menurut Yonhap, dikutip dari The Strait Times, pemerintah Amerika Serikat dan Korea Utara dilaporkan telah membuat sedikit kemajuan dalam mengimplementasikan kesepakatan yang dicapai oleh Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un pada pertemuan bersejarah mereka minggu lalu.
 
Perjanjian tersebut membuat Kim melakukan 'denuklirisasi total' di Semenanjung Korea dengan imbalan jaminan keamanan dari Amerika Serikat.
 
Pyongyang memandang akhir resmi dari perang ini sebagai jaminan keamanan, mengklaim setelah menghapus program rudal nuklir dan balistiknya.  Sementara Presiden Donald Trump mengecam media karena melemparkan negosiasi sebagai gerakan lambat.
 
"TIdak ada satu roket pun diluncurkan oleh Korea Utara dalam sembilan bulan. Demikian juga, tidak ada Uji Nuklir. Jepang senang, semua Asia senang," tulis Trump di akun twitternya pada hari sebelumnya. "Tapi berita palsu mengatakan, tanpa pernah bertanya padaku (selalu sumber yang tidak diketahui), bahwa saya marah karena prosesnya tidak cepat. Salah, saya sangat bahagia!" (Khalisha Firsada).

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close