Atasi Kekeringan, UAI Bantu Konservasi Air Warga Cianjur

Gambar Gravatar

INDOPOLITIKA.COM – Kemarau panjang membuat banyak kawasan di Tanah Air mengalami kekeringan. Keluhan terkait kekeringan ini misalnya, terasa di kawasan Cibeureum, Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat yang secara umum bercuaca sejuk dan memiliki banyak sumber air.

‘’Sekarang mah, kemaraunya benar-benar tidak dikira akan seperti ini. Kering. Warga kurang antisipasi istilahnya, karena biasanya kan air mah melimpah di sini mah. Sekarang sih, repot,’’ kata Donny Herdyana, Camat Pacet, Senin (23/10).

Untung, kata Donny, sejak beberapa waktu lalu Cibeureum kedatangan Nita Niroko dan kawan-kawan dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) yang berbagi program konservasi air. Warga disadarkan tentang pentingnya mengelola air dari sumber yang tersedia sekaligus dibantu fasilitas sederhana berupa penampungan atau embung.

‘’Idenya mungkin sederhana, tapi warga perlu disadarkan dan diajak kerjasama. Kami dari kampus, dengan bantuan biaya program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud, akhirnya bisa turut mengajak warga melakukan konservasi air,’’ kata Nita Noriko, ahli konservasi tanah dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI).

Sebelumnya, kata Nita, petani di Cibeureum dan Sukanagalih pada umumnya kurang memanfaatkan kegiatan konservasi. Air bersih dari mata air dibiarkan mengalir sesuai pola geografis dan gravitasi.

‘’Air kemudian turun bercampur dengan selokan yang dipenuhi sampah lingkungan, dan sisanya menuju sungai. Ketika kemarau ekstrim datatang, kekeringan jadi tidak bisa dihindari. Para petani nggak mengira akan seperti ini,’’ tutur Nita.

Nita yang merupakan Doktor di bidang pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan, melaksanakan kegiatan ini sejak Maret 2023 bersama para dosen dari berbagai program studi seperti Risa Swandari Wijihastuti dari Prodi Biologi, Alma Mandjusri dari Ilmu Komunikasi dan Liana Mailani dari Psikologi.

Tim dari UAI ini, bersinergi dengan tokoh setempat memberikan bimbingan kepada para petani mulai dari konservasi tanah dan air, pelatihan enterpreneur hingga keterampilan pemasaran digital dengan memanfaatkan media sosial.

‘’Pendekatan utama kami memang pemberdayaan ekologi. Tapi kami juga berusaha datang dengan kegiatan-kegiatan sharing untuk mendorong kemungkinan masyarakat mengembangkan potensi sumberdaya lokal, baik manusianya maupun alamnya untuk perbaikan ekonomi,’’ kata Alma Mandjusri dari Prodi Ilmu Komunikasi.

Untuk memastikan masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan ini, para dosen dan mahasiswa UAI bergotong royong dengan Kelompok Tani kampung Cibeureum membuat kolam penampungan (embung) berukuran 7×3,5 meter dengan kedalaman 3 meter. Penampungan ini dipastikan mampu menahan longsor karena dilapisi paranet dan bamboo sebagai penahan.

‘’Sudah ada setidaknya tiga embung. Alhamdulillah, para petani dapat mengalirkan air ke lahan-lahan pertanian yang lokasinya lebih tinggi dengan bantuan pompa air,’’ kata Risa Swandari.

Donny mengakui, keberadaan embung dan kolam memberikan dampak positif bagi para petani di kampung Cibeureum. Dalam keadaan musim kemarau ekstrim petani mendapatkan peningkatan hasil pertanian mencapai 80%. Sebagai contoh ketika musim hujan dalam 1 pohon timun dihasilkan 2,5 kg timun sedangkan pada musim kemarau ekstrim dapat mencapai 2 kg.

‘’Program ini sangat baik. Kami sangat berterima kasih kepada para dosen UAI dan Kemendikbud ya. Saya kira ini bisa menjadi percontohan untuk kampung atau desa-desa lain yang situasinya sama,’’ kata sang Camat.

Tak kalah menarik, dosen-dosen ini juga juga menggelar kegiatan psikososial dan berbagi pengelaman tentang komunikasi pemasaran. Pendekatan-pendekatan ini dilaksanakan dalam bentuk pelatihan peningkatan jiwa entrepreneur dan kreativitas dengan mendatangkan dosen-dosen lain dari psikologi dan komunikasi.

‘’Kita berharap, masyarakat bisa lebih siap secara psikologis ketika menghadapi situasi sulit seperti kekeringan, dan tetap berpikir kreatif. Karena rata-rata juga sudah akrab dengan gawai misalnya, kita juga mendorong pemanfaatan teknologi informasi ini untuk kepentingan yang lebih luar terkait dengan sumber daya local. Mislanya memasarkan hasil pertanian dan perkebunan. Semoga bermanfaat,’’ kata Liana dari Prodi Psikologi. [RIL]

 

Bagikan:

Ikuti berita menarik Indopolitika.com di Google News


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *