Awas…Jajaran KPU Dilarang Sakit “Kutil, Kudis dan Kurap”

  • Whatsapp
Komisioner KPU, Viryan.

INDOPOLITIKA.COM – Menjadi seorang penyelenggara pemilu, semangat untuk bekerja maksimal dan sempurna perlu untuk dikedepankan. Setidaknya dalam diri jajaran Komisi Pemilihan Umum (KPU) ditiap tingkatan harus bekerja dengan baik, tidak boleh kurang teliti (kutil), kurang disiplin (kudis) dan kurang rapi (kurap). Khususnya bagi para operator sistem informasi yang digunakan pada Pemilihan Serentak tahun 2020.

“Keberhasilan Pemilu 2019 jangan sampai membuat kita terjebak, meremehkan dan terlena, sehingga pada Pemilihan 2020 ini kita harus pada posisi yang sama dengan Pemilu 2019. Untuk itu, jajaran KPU khususnya para operator Silon tidak boleh sakit kutil, kudis dan kurap, yaitu kurang teliti, kurang disiplin dan kurang rapi,” tutur Komisioner KPU Viryan mengutip keterangan tertulis hupmas kpu, Jumat (22/11/2019).

Baca Juga:

Viryan menekankan hal tersebut karena para operator Silon tersebut yang akan melayani peserta pemilihan dalam mengunggah dokumen-dokumen pencalonan. Untuk itu, semua harus bisa bekerja dengan baik dan harus ada perbaikan tata kerja administrasi juga untuk mengantisipasi potensi masalah yang berujung sengketa terkait Silon ini.

“Sesungguhnya Silon ini sangat bermanfaat buat semua, baik KPU, peserta pemilu dan masyarakat. Silon membuat pekerjaan menjadi lebih mudah, efisien, transparan, profesional dan akuntable. Saat ini semua jejak digital dapat dilacak, hasil input data juga bisa langsung diketahui. Bahkan di era digital Indonesia sekarang ini juga termasuk digitalisasi pemilu. Ke depan Silon ini juga harus terintegrasi, hasilnya bisa masuk ke Situng dan Sirekap, misalnya soal penulisan nama dan foto,” tutur Viryan.

Viryan juga mengingatkan, penyelenggaraan Pemilu 2019 itu rumit dan berat, rumit dari sisi UU dan teknis penyelenggaraannya, berat dari sisi politisnya. Namun perlu disyukuri, hasil kerja keras semua jajaran penyelenggara pemilu dari pusat hingga badan ad hoc, tingkat partisipasi masyarakat bisa lebih dari 80 persen. “Untuk itu, pada Pemilihan Serentak 2020 ini semua harus berpikir dan berusaha untuk mempertahankan tingginya tingkat partisipasi tersebut,” imbuhnya.[asa]

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *