Bak Film Action, Bos Hotel Disekap 7 Debt Collector

  • Whatsapp
Debt collector yang diamankan polisi

INDOPOLITIKA.COM – Bak di film action, polisi berhasil membebaskan bos hotel dari penyekapan yang dilakukan 7 orang debt collector pada Minggu (27/10/2019).

“Kami membongkar sindikat tersebut. Dari penangkapan tersebut kami mengamankan 7 orang pelaku yang melakukan intimidasi dan penyekapan terhadap seorang korban Engkos Kosasih, Dirut PT Maxima di sebuah Hotel Grand Akoya Taman Sari Jakarta Barat,” kata Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Suratna Sitepu dalam keterangannya, Jakarta, Senin (28/10/2019).

Baca Juga:

Tak hanya itu, polisi juga mengamankan satu orang yang menggunakan jasa debt collector yaitu direktur PT HSSJ yang bergerak di bidang penagihan utang.

Adapun kedelapan pelaku yang telah diamankan yakni Arif Boamona selaku direktur PT HSSJ  serta para anak buahnya yakni Arie, Juarman, Moksen, Husin, Fajar, Fisal dan Farid.

Dalam kasus ini, saat menyekap dan mengancam korban, para debt collector juga menaikkan total utang yang harus dibayar dari semula Rp 100 juta menjadi Rp 250 juta.

Selain itu, mereka juga meminta Rp 5 juta sebagai uang tunggu lantaran Engkos belum bisa membayar utang tersebut.

“Para tersangka ini kemudian meminta uang Rp 5 juta kepada korban untuk uang tunggu karena korban minta kebijaksanaan waktu selama lima hari,” kata Edy.

Lantaran terancam, korban pun memberikan uang tersebut kepada Arif selaku ketua kelompok debt collector tersebut.

“Oleh AB, uang tersebut dibagikan kepada para anggotanya dengan nilai berbeda-beda. Untuk tersangka A (Arie) diberikan Rp 500 ribu. Sedangkan yang lainnya diberikan Rp 250 ribu,” kata Edy.

Tersangka Arie dikasih lebih besar diduga lantaran ia ikut bersama Arif dan empat DPO mengancam korban di dalam ruangan hotel. Sedangkan tersangka sisanya berjaga di luar hotel.

Penyekapan ini berawal dari perjanjian kontrak antara korban dengan US selaku kontraktor untuk merenovasi hotelnya senilai Rp 31,587 miliar.

Sebagai bentuk keseriusan, US kemudian menyerahkan uang Rp 100 juta kepada korban untuk pengurusan surat dalam proyek ini.

Namun setelah beberapa waktu, proyek tersebut tak kunjung berjalan hingga US meminta agar korban mengembalikan uang tersebut.

Saat ditagih, korban tak bisa mengembalikan uang tersebut lantaran dia mengaku uang tersebut sudah dipakai untuk mengurus surat dalam proyek ini.

Lantaran tak ada titik temu, US pun menyewa debt collector untuk menagih uangnya. Dari tangan pelaku, polisi turut mengamankan beberapa barang bukti mulai dari surat perjanjian hingga kendaraan yang digunakan mereka.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *