Bamsoet Diberi Jabatan Ketua MPR, Kubu Airlangga Masih Ketar-Ketir

  • Whatsapp
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet)

INDOPOLITIKA.COM  – Kubu Airlangga Hartarto ternyata masih memiliki kekhawatiran terhadap Bambang Soesatyo (Bamsoet). Sebab, meski telah mendapatkan kursi MPR, peluang mantan Ketua DPR untuk menantang Airlanga pada Musyawarah Nasional (Munas) pada Desember mendatang, masih terbuka lebar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, sejumlah pengurus Golkar di daerah menginginkan agar ada pergantian kepemimpinan di tubuh partai berlambang pohon beringin itu. Selain Airlangga dinilai kurang memiliki leadership yang kuat dalam menahkodai Partai Golkar, persolan yang tengah di hadapi adalah tingkat kepercayaan publik terhadap Golkar kian menurun.

Muat Lebih

“Telebih, pada pemilihan legislartif  2019 ini, perolehan kursi DPRD di sejumlah daerah mengalami penurunan. Meski Kepala Daerahnya dari partai Golkar. Ini artinya kondisi Golkar tengah sakit,” ujar sumber Indopolitika yang enggan disebutkan identitasnya, Sabtu (19/10).

Pada bagian lain, kubu Airlangga sepertinya sudah nyaman dengan posisi saat ini. Bahkan manuver Bamsoet yang sempat membuat kubu Airlangga kelimpungan, akhirnya dapat diredam dengan deal-deal politik yaitu Bamsoet mendapatkan kursi Ketua MPR.

Namun, kekuatan arus bawah agar adanya pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Golkar masih cukup kuat. Meski eskalasi suarnya tidak begitu santer di media. Bahkan sejumlah pengurus daerah berharap agar Bamsoet tetap maju di Munas mendatang. Selain itu, ada juga yang meminta politisi senior Golkar Ridwan Hisjam ikut maju dalam Munas mendatang.

Sementara itu, Ketua Umum Kosgoro 1957 Agung Laksono meminta Bambang Soesatyo (Bamsoet) konsisten tak maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar di Munas mendatang.

Hal ini disampaikan Agung lantaran setelah Bamsoet telah mendapatkan kursi Ketua MPR, sebagaimana hasil kesepakatan dengan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto.

“Konsesus deal-deal politik yang menghasilkan kesepakatan dan ini juga terjadi pada Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto. Untuk itu kami meminta Bamsoet menempati perjanjian itu (tidak maju sebagai caketum Golkar,” kata Agung di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (19/10).

Walaupun tidak ada saksi jika ingkari perjanjian itu, kata Agung, tapi moral yang dipertaruhkan untuk seorang mantan Ketua DPR RI itu.

“Partai Golkar disini tidak ada saksi ini soal moral, ini penting apa artinya nulis menulis jadi bukan soal itu, tapi bagaimana niat baik. Menjaga niat baik menjaga moral. Pertimbangan moral lebih penting dari pada perjanjian tertulis,” katanya.[ab]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *