Pemerintahan

Barisan Natsir Muda Kawal Visi Indonesia Poros Maritim Dunia

GARUT –   Kantor Staf Presiden mengapresiasi peran Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis)  dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya isu kemaritiman dengan menerbitkan buku ‘Fiqih Maritim’.  Hal ini diampaikan oleh Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan DIseminasi Informasi Kantor Staf Presiden Binny Buchori saat membuka bedah buku ‘Fiqih Maritim, di Garut, Sabtu, 1 September 2018.

Diskusi ini merupakan kegiatan kerjasama  Kantor Staf Presiden dihadiri oleh 500 peserta perwakilan dari berbagai universitas, mengangkat tema ‘Menuangkan Nalar Fikih dalam Visi Indonesia Poros Maritim Dunia’, sebagai manifestasi gagasan dari buku Fiqih Maritim yang ditulis oleh Lam Lam Pahala yang merupakan mantan ketua umum Hima Persis.

 “Kami sangat mengapresiasi gagasan Fikih Maritim Persis, sebagai salah satu organisasi Islam yang besar dan berpengaruh di Indonesia sudah banyak sekali memberikan kontribusi nyata dalam perjalanan bangsa ini,” kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Binny Buchori.

Binny menambahkan, dalam sejarahnya persis banyak melahirkan tokoh-tokoh pemikir hebat sekaliber Mohammad Natsir yang ikut serta berperan aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Menurutnya, tugas dari generasi sekarang adalah melanjutkan perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan gagasan dan pemikiran-pemikiran. Pemikiran fiqih maritim menjadi salah satu gagasan yang relevan karena sesuai dengan visi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

“Munculnya konsep fiqih maritim ini diharapkan bisa menjadi jembatan bagi program prioritas maritim Presiden Jokowi dalam menjelaskan arti pentingnya kemaritiman bagi umat Islam serta sebagai upaya melahirkan pakar kemaritiman baru di Indonesia,” ungkap Binny.

fiqihSementara itu, Ketua Umum HIMA Persis Nizar A. Saputra menyampaikan, Indonesia adalah negara maritim dan Al-Qur’an lebih banyak menyebut ayat-ayat yang berbicara soal kelautan (Bahrun) daripada ayat yang menjelaskan tentang daratan. “Dari sini bisa dimaknai, Islam sebenarnya sudah lebih dahulu berbicara soal konsep maritim sejak abad ke-8 Hijriyah,” kata Nizar

Selain Binny Buchori, hadir pula Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV, Wandy Tuturoong, sebagai salah satu nara sumber. Wandy menegaskan, untuk membangun poros maritim yang kuat, kita harus membangun infrastruktur dan sumber daya manusianya. Selain itu, perlu adanya inisiatif dari masyarakat untuk ikut serta dalam membangun budaya maritim.

“Dengan adanya pemikiran Fiqh Maritim dari Persis ini bisa melengkapi proses membangun budaya maritim berdasarkan perspektif Islam,” kata Wandy N. Tuturoong.

Menurut Wandy pemerintah sangat  memperhatikan  isu-isu kemaritiman sehingga dukungan masyarakat sangat dibutuhkan dalam membangun budaya maritim sampai ke akar rumput, disinilah peran strategis Persis untuk ikut memberikan kontribusi nyata pada negara.

persis2“Oleh karenanya, menjadi penting bagi pemerintah untuk bersinergi dengan masyarakat khususnya umat Islam, dengan melakukan dua langkah konkret. Pertama melibatkan para santri sebagai lokomotif penggerak poros maritim, dan kedua memperbanyak pesantren maritim di Indonesia,” pungkasnya.

Pelaksanaan Diskusi tersebut merupakan bagian dari FGD simultan yang diadakan Kedeputian IV Kantor Staf Presiden dengan berbagai organisasi kemasyarakatan.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close