Bela BEM UI Juluki Jokowi ‘The King of Lip Service’, Politisi Demokrat: Mereka Gak Asal Menetapkan

Jansen Sitindaon

INDOPOLITIKA.COM – Unggahan BEM UI perihal Jokowi ‘The King of Lip Service’ ditanggapi beragam. Bagi politisi Demokrat, apa yang disampaikan BEM UI tersebut harusnya ditanggapi biasa saja. Toh mereka juga gak asal menetapkan julukan itu kepada Jokowi, karena memiliki referensi.

Wakil Sekjen Demokrat, Jansen Sitindaon melalui Twitternya, @jansen_jsp turut memberikan respon. Menurut Jansen, orang-orang yang ada di sekitar lingkaran kekuasaan saat ini dulunya banyak juga yang menjadi aktivis, tukang kritik.

“Bahkan sebelum dapat kekuasaanpun masih tukang kritik. Termasuk diisi banyak civil society yang dulu juga raja kritik. Soal BEM UI itu harusnya ditanggapi biasa saja. Soal gantian aja ini. Salam,” kata Jansen.

Selain Jansen, politisi Demokrat lain yang membela BEM UI yakni Yan Hararap. Bagi Yan, apa yang dilakukan BEM UI sesuai referensi yang mereka dapatkan. Jadi julukan itu tidak asal keluar begitu saja.

“Jika ada yang mempertanyakan atas dasar apa adik2 BEM UI menetapkan Pak @jokowi sbg The King of Lip Service, berikut referensi mereka. Gak asal menetapkan,” bela Yan sembari melampirkan referensi yang dimaksud.

Salahi Aturan Kampus

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) akan tetap mempertahankan postingan di media sosial terkait julukan ‘Jokowi The King of Lip Service’. Bagi mereka, itu merupakan bentuk kritikan. Karena itu tidak akan dihapus meski dipanggil pihak rektorat.

Namun, Kepala Biro Humas dan Keterbukaan Informasi Publik (KIP ) Universitas Indonesia Amelita Lusia menjelaskan maksud pihaknya memanggil BEM UI, setelah kritik mereka terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi viral di media sosial. Dalam kritiknya, BEM UI menyebut Jokowi sebagai King of Lip Service dan disertai foto Jokowi memakai mahkota.

Menurut Amelita, kritik BEM UI itu dinilai kurang tepat dalam penyampaiannya karena menggunakan foto Jokowi sebagai meme. Padahal, menurut Amelita, presiden merupakan simbol negara.

“Jadi bukan lah cara menyampaikan pendapat yang sesuai aturan yang tepat, karena melanggar beberapa peraturan yang ada,” ujar Amelita, Ahad, 27 Juni 2021.

Terkait pemanggilan yang dilakukan pada hari Ahad sore atau saat perkuliahan libur, Amelita beralasan karena hal ini bersifat darurat dan kampus perlu bersikap tegas. Amelita menyebut meme Jokowi yang dibuat oleh BEM UI itu telah membuat keramaian di media sosial.

“Pemanggilan ini adalah bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan yang ada di UI,” ujar Amelita. [ind]

 


Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.