INDOPOLITIKA – Perbincangan mengenai dugaan kondisi darurat selama tujuh hari belakangan ramai menyita perhatian publik.

Isu yang menyebutkan bahwa listrik dan mesin ATM akan berhenti beroperasi selama sepekan beredar luas di media sosial tanpa disertai sumber jelas, otoritas resmi, maupun dasar teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti, menegaskan bahwa hingga kini tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah maupun lembaga negara yang membenarkan kabar viral tersebut. Ia memastikan isu tersebut tidak memiliki legitimasi apa pun.

Anggota DPR RI Komisi II, Azis Subekti menyoroti fenomena ruang digital saat ini yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Menurutnya, banyak informasi tidak lagi diukur dari kebenaran, melainkan dari seberapa ramai diperbincangkan. Akibatnya, pertanyaan soal validitas sering kali kalah cepat dibandingkan dorongan untuk ikut menyebarkan kabar yang sedang viral.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan titik rawan masyarakat, di mana emosi lebih dominan daripada nalar. Rendahnya literasi digital membuat publik mudah terpancing tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Lebih lanjut, Azis mengingatkan bahwa dampak hoaks tidak hanya berhenti pada kepanikan sesaat. Informasi palsu yang terus beredar dapat membentuk pola perilaku kolektif, yakni bereaksi cepat tanpa berpikir panjang.

Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi, informasi, bahkan antarwarga.

Politikus Partai Gerindra itu menambahkan, masyarakat yang terus-menerus diterpa kabar palsu akan mengalami kelelahan informasi. Kondisi ini membuat publik sulit membedakan antara ancaman nyata dan isu yang direkayasa.

Ia pun mengingatkan bahaya lanjutan dari situasi tersebut. Ketika ancaman yang benar-benar serius muncul, peringatan justru berisiko diabaikan karena dianggap sebagai isu viral semata.

Menurut Azis, era digital saat ini menuntut hadirnya nilai baru yang jarang disadari, yakni kesabaran digital.

Kemampuan untuk menahan diri sebelum membagikan informasi, menguji kebenaran sebelum percaya, serta mencari sumber tepercaya sebelum panik menjadi sangat penting.

Meski negara memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan komunikasi publik yang cepat dan kredibel, Azis menegaskan bahwa masyarakat juga memikul tanggung jawab etis. Ia mengimbau agar emosi pribadi tidak dijadikan sarana penyebaran informasi yang belum tentu benar.

Ia menilai linimasa media sosial sejatinya telah menjadi cermin kondisi masyarakat saat ini. Bukan kekurangan informasi, melainkan kurangnya ketenangan dalam menyikapi arus informasi yang datang tanpa henti.

Azis menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa bahaya terbesar bukan terletak pada satu hoaks atau satu konten viral, melainkan pada terbentuknya masyarakat yang mudah dipengaruhi oleh isu samar, namun semakin sulit diajak berpikir kritis bersama.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengembalikan nalar ke ruang publik dan menjadikan literasi sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar slogan. (Nul)

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Indopolitika.com