Nasional

Bincang-Bincang Toleransi dan Perdamaian

Ajak Anak Muda Aktif Tanggulangi Intoleransi dan Radikalisme

JAKARTA – Intoleransi, radikalisme serta kekerasan berbasis agama menjadi isu yang sangat memprihatinkan saat ini, terutama karena para penggerak topik-topik itu menyasar. Keterlibatan anak muda sebagai korban dari propaganda ini. Untuk mengantisipasinya, diperlukan pelibatan generasi muda secara lebih aktif lagi dalam penanggulangan radikalisme, mempromosikan toleransi serta memerangi kekerasan.

Hal itu terungkap dalam acara talkshow dengan tema “Bincang-bincang Toleransi dan Perdamaian di Bulan Kasih Sayang; Anak Muda Bertemu Pembuat Kebijakan’ di Rumah Kembang Kencur, Pejaten, Jakarta Selatan 21 Februari 2018 yang digelar Forum LSM International NGO Forum on Indonesian Development (INFID).

Dalam perbincangan santai ini terungkap ajakan agar pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk aktif menciptakan ruang publik bagi para pemuda, serta melibatkan generasi muda dalam pembuatan kebijakan.

Menanggapi berbagai masukan itu, Tenaga Ahli Madya Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Roysepta Abimanyu menyampaikan bahwa pelibatan masyarakat dalam memerangi intoleransi dan radikalisme, menjadi komitmen Presiden Jokowi. Roy menekankan, intoleransi dan radikalisme “berasal dari pikiran dan gagasan. Pemerintah tidak mungkin memerangi gagasan sendirian, karena gagasan ini berkembangnya di komunitas-komunitas. “Karena itu Pemerintah memerlukan dukungan dari masyarakat untuk bersama-sama menganggulangi radikalisme” kata Roy.

Lebih lanjut Roy menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki berbagai perangkat hukum untuk menanggulangi intoleransi dan radikalisme, antara lain UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dengan UU ini, Pemerintah telah menindak oknum-oknum penyebar ujaran kebencian dan berita palsu.

Selain itu, Pemerintah juga tengah menyiapkan Rencana Aksi Penanggulangan Radikalime dan Toleransi, yang akan mensinergikan berbagai program antar kementerian dan lembaga. “Saat ini sangat diperlukan produksi narasi-narasi positif secara massif yang dikembangkan oleh masyarakat,” katanya.

Talk show ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan besar ‘Human Rights Cities Youth Fellowship INFID, Penguatan Partisipasi Anak Muda sebagai Agen Perubahan di Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta’. Hadir dalam serial acara di Jakarta ini antara lain Wakil Bupati Wonosobo Agus Subagyo, kolumnis muda asal Yogyakarta Kalis Mardi Asih serta Kabag Humas Protokol Sekda Kabupaten Bojonegoro Heru Sugiharto.

Tolak Kekerasan Berbasis Agama
Kalis, penulis dan aktivis muda Nahdlatul Ulama mengungkap kabar buruk yakni adanya tren lain paska maraknya dunia digital saat ini, yaitu maraknya anak muda menjadi pelaku tindakan intoleran.
Namun, di saat yang bersamaan juga terdapat kabar baik, yaitu berdasarkan hasil riset INFID di tahun 2016, mayoritas anak muda di 6 kota sebesar 88.2 persen menolak kekerasan berbasis agama. Hal itu dapat dilihat sebagai potensi yang harus dimaksimalkan.

Di samping itu pelembagaan peran anak muda dalam pembangunan di tingkat daerah melalui kerangka Kabupaten/Kota HAM sangat penting karena merupakan bentuk perwujudan hak untuk berkontribusi langsung di dalam pembuatan kebijakan yang berdampak langsung kepada kehidupan mereka. Di acara ini ke-10 fellows yang terpilih dari Bojonegoro, Wonosobo dan Jakarta menyampaikan hasil proyek “Pak Presiden, saya punya ide …” yang berisikan rekomendasi kepada para pemangku kebijakan antara lain, membangun lebih banyak ruang untuk para pemuda; memperkuat kurikulum pendidikan agama yang toleran, dan mendorong budaya literasi media.

Binny Buchori, Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden yang turut hadir pada kesempatan ini menutup acara dengan mengapresiasi kehadiran para HRC fellows dan anak muda ini sebagai harapan baru bagi kita semua.

“Pemerintah tidak mungkin memadamkan api sendiri, kita membutuhkan kolaborasi,” kata Binny. (ksp)

Tags

Artikel Terkait

Close
Close