Tokoh

Biografi Padil Karsoma: Dari Tenaga Perawat Kesehatan Hingga Pernah Jadi Plh Bupati Purwakarta

H. Padil Karsoma

Lebih dari separuh hidup Padil Karsoma didedikasikan sebagai aparatur sipil negara (ASN/PNS). Mengawali karier pada 1980, ia kemudian menduduki posisi tertinggi di pemerintahan daerah pada 2013 sebagai sekretaris daerah.

Seperti banyak sekda yang diangap sebagai figur kuat untuk menjadi kepala daerah, Padil Karsoma pun demikian. Ia maju di Pilbup Purwakarta 2018 bersama politisi PDI Perjuangan, Acep maman.

Sosok Padil diperhitungkan karena rekam jejak di birokrasi yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Padil juga pernah mencicipi pelakasana tugas bupati pada 2012. Saat itu, ia menggantikan Dedi Mulyadi yang mencalonkan diri sebagai Bupati Purwakarta untuk periode kedua.

Meskipun berstatus sebagai abdi negara, politik bukan hal asing bagi Padil. Ketika belum ada larangan PNS berpolitik pada era orde baru, Padil merupakan Komisaris Partai Golkar Kecamatan Plered dari 1988 hingga 1998.

Saat itu, Padil juga terafiliasi dengan organ sayap partai berlambang pohon beringin, antara lain Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)selama sepuluh tahun.

Padil Karsoma Awali Karier Jadi Perawat

Lulus dari sekolah perawat pada 1979, Padil Karsoma mengawali kariernya sebagai tenaga perawat kesehatan. Lokasi tugas pertamanya ialah Puskesmas Purwakarta.

Kiprahnya di birokrasi dilakoni Padil setahap demi setahap hingga ia mampu menduduki jabatan Kepala Puskesmas di Puskesmas Tegalwaru dan Puskesmas Plered.

Setelah malang melintang di puskesmas, Padil kemudian menduduki jabatan yang lebih strategis di Dinas Kesehatan Purwakarta. Mulanya, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan hingga menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta sebelum dirinya diangkat menjadi Sekda pada 2013.

Padil Karsoma juga dikenal sebagai sosok yang religus. Di beberapa kesempatan, Padil kerap menekankan pentingnya benteng agama untuk anak muda. Ia berniat menggalakkan gerakan mengaji selepas Magrib dan zikir setelah Subuh kepada masyarakat Purwakarta.

Lebih dari itu, Padil memaknai ajaran Islam dapat dikembangkan menjadi spirit membangun daerah. Menurut dia, mengentaskan kemiskinan, menjalankan pembangunan yang adil dan merata, menjalankan pemerintahan yang berorientasi pada pemenuhan hak hidup aman, nyaman, dan sejahtera adalah ajaran Islam yang harus diamalkan. (Pikiran Rakyat)

Tags

Artikel Terkait

Close
Close