Bisnis Penting, Presiden AS Izinkan Toko Senpi Beroperasi di Tengah Wabah Corona

  • Whatsapp
Sejumlah warga mengantre untuk membeli senjata api. Foto/The Associated Press

INDOPOLITIKA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan instruksi penting agar toko yang menyediakan senjata api, tetap beroperasi selama mewabahnya Virus Corona. Administrasi Trump menganggap, bisnis senjata api dianggap salah satu bisnis penting yang tidak boleh ditutup meski ada kebijakan social distancing.

Namun, kebijakan Donald Trump tersebut dikecam sebagian warga yang menganggap lebih mementingkan sisi bisnis daripada kesehatan serta keselamatan warganya. Trump sendiri memberikan izin setelah dilobi dengan intens oleh pihak industry yang memproduksi senjata api di negara tersebut.

Berita Lainnya

Mengutip laman ABCNews, dalam beberapa minggu terakhir, berbagai negara bagian dan kota memberikan komentar berbeda terkait apakah apakah toko senjata harus dibiarkan tetap terbuka karena orang Amerika tinggal di rumah untuk menghindari penyebaran virus. Di Los Angeles, misalnya, Sheriff Alex Villanueva sudah dua kali memerintahkan penutupan toko senjata di wilayahnya, yang mengarah pada tantangan hukum dari para pembela hak senjata.

Namun, setelah berhari-hari dilakukan lobi oleh National Rifle Association, National Shooting Sports Foundation, dan kelompok-kelompok terkait lainnya, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS akhir pekan lalu mengeluarkan sebuah instruksi yang menyatakan bahwa para penjual senjata api harus dianggap sebagai layanan penting, layaknya toko bahan makanan, apotek dan rumah sakit sehingga harus dibiarkan tetap terbuka. Badan itu mengatakan putusannya bukan mandat tetapi hanya panduan untuk pemimpin kota maupun pemimpin negara bagian, karena mereka mempertimbangkan bagaimana mencegah penyebaran virus corona.

Salah satu kelompok yang menolak kebijakan tersebut adalah Kelompok Brady, yang memiliki fokus terhadap penggunaan senjata api. Pada Senin, (29/3/2020) lalu, ia mengajukan permintaan Kebebasan Informasi kepada DHS melalui email dan meminta dokumen yang menjelaskan bagaimana badan tersebut mencapai keputusan untuk mengeluarkan imbauan memperbolehkan toko senjata tetap terbuka.

“Lobi-lobi agar senjata diperbolehkan dijual jelas itu keterlaluan dan tidak diperlukan oleh Amandemen Kedua,” kata Jonathan Lowy, kepala penasihat untuk Brady.

Dia menambahkan kemudian, “Ini masalah kesehatan masyarakat, bukan masalah Amandemen Kedua. Faktanya adalah bahwa senjata, sifat senjata, mengharuskan mereka dijual dengan banyak interaksi yang erat. Mereka tidak bisa dijual dari mesin penjual otomatis, tidak bisa dijual dengan pickup pinggir jalan,” tegasnya.

Dalam beberapa minggu terakhir, penjualan senjata api meroket di negara tersebut. Pemeriksaan latar belakang sebagai barometer utama penjualan senjata, sudah mencapai rekor pada bulan Januari dan Februari. Sejak wabah Corona virus, toko senjata di beberapa lokasi melaporkan adanya antrean panjang pembeli untuk mendapatkan senjata api dan amunisinya.[asa]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *