Bos MPR: SDM yang Tak Kuasai Digital Cepat atau Lambat Pasti Tersingkir

  • Whatsapp
Ketua MPR Bambang Soesatyo berpose bersama peserta seusai acara seminar di DPR Rabu (20/11/2019)

INDOPOLITIKA.COM- Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) me-warning para pendidik (guru) dan peserta didik (generasi muda) terkait ancaman  gelombang besar revolusi industri 4.0 yang mengakibatkan gangguan baru (a new wave of disruption) yang melanda dunia saat ini.

Indikasi adanya pergeseran pola industri itu bisa dilihat dari proses relokasi industri dari Eropa dan Amerika menuju Asia (Indonesia, Vietnam, Thailand, Pakistan, India, dan lain-lain) dan Amerika Latin (Brazil) yang telah dimulai sejak 1970-an.

Muat Lebih

Bamsoet mengatakan, dampak relokasi industri adalah aplikasi otomatisasi yang intensif dan masif yang mengubah persyaratan pekerjaan yang bersifat digital. Sumber daya manusia yang tidak menguasai literasi digital, cepat atau lambat akan tersingkir.

“Globalisasi yang ditopang dengan lompatan kemajuan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan tranportasi terus mengalami pendalaman yang semakin dipermudah oleh revolusi industri 4.0,” kata Bamsoet saat menjadi keynote speaker seminar kebangsaan di Gedung Nusantara V MPR, Jakarta, Rabu (20/11/19).

Menurut Bamsoet, salah satu dampak revolusi industri 4.0 adalah terbentuknya pasar hiperkompetitif yang menuntut kreativitas dan inovasi, menguras sumber daya keuangan, dan dapat mengucilkan sumber daya manusia dari lingkungan industri karena alasan efisiensi. Tantangan baru dunia kerja di era revolusi industri 4.0 adalah integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi.

“Tantangan tersebut, harus dapat diantisipasi melalui transformasi pasar kerja Indonesia dengan mempertimbangkan perubahan iklim bisnis dan industri,” imbuhnya.

Oleh karena itu, kandidat Ketua Umum Partai Golkar ini mendorong agar dunia pendidikan dan dunia industri harus dapat mengembangkan industrial transformation strategy. Perkembangan transformasi industri  itu hanya akan berhasil jika ada tenaga kerja yang kompeten.

“Di sinilah kita merasakan betapa pentingnya menyelenggarakan pendidikan vokasi dan profesi dalam rangka menghasilkan lulusan yang mampu bekerja atau berusaha secara produktif,” katanya.

Menurut Bamsoet,  keberhasilan pendidikan vokasi dan profesi jangan sekali-kali diukur dari perspektif penyedia layanan pendidikan (supply driven) seperti banyaknya lulusan penerima ijazah, banyaknya penerima sertifikat, tingginya nilai ujian, atau sejenisnya.

Keberhasilan pendidikan vokasi dan profesi harus diukur berdasarkan perspektif penerima kerja. Misalnya, serapan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, peningkatan penghasilan, kepuasan stake holder, dan sejenisnya.

“Jika perubahan orientasi ini dapat dilakukan, maka saya tidak akan mendengar lagi anomali bahwa pendidikan vokasi dan profesi malah cenderung lebih menghasilkan pengangguran dibanding mengatasi pengangguran,” tandasnya.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *