Politik

Caleg dan capres kunjungi sumur Bung Karno

Bengkulu – Sejumlah calon anggota legislatif hingga calon presiden mengunjungi sumur Bung Karno yang terdapat di rumah pengasingan Proklamator itu di Kelurahan Anggut Kota Bengkulu.
“Ada caleg bahkan calon presiden PKS Anis Matta dua hari lalu datang ke sini membasuh muka dengan air sumur Bung Karno,” kata Dicky, juru pelihara Rumah Bung Karno di Bengkulu, Kamis.
Ia mengatakan aksi para politisi berkunjung dan membasuh muka di sumur milik Soekarno merupakan pemandangan yang lazim pada tahun demokrasi.
Tidak diketahui kapan persis ritual itu bermula, namun air dari sumur itu bagi sebagian orang dipercaya membawa berkah.
“Sebenarnya sudah lama ini berlangsung, tidak jelas siapa yang memulai, tidak hanya politisi lokal, tapi juga nasional membasuh muka di sini,” kata Dicky menerangkan.
Tidak hanya para politisi itu, pengunjung umum rumah bersejarah itu juga sering membasuh muka atau mencuci tangan dan kaki dengan air sumur itu.
Sebagian pengunjung kata dia bahkan membawa pulang air dengan memasukkannya dalam wadah khusus.
Dicky mengatakan bahwa ada yang mempercayai bahwa air sumur tersebut bisa membuka aura pemimpin dan ada juga yang percaya jika air tersebut akan mempermudah segala sesuatu urusan.
Air tersebut katanya, seperti motivasi spiritual bagi mereka yang menggunakannya.
Ia menambahkan bahwa ada sejumlah tokoh nasional yang pernah membasuh muka dengan air sumur itu antara lain Surya Paloh dan Mahfud MD.
Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Provinsi Bengkulu Mohammad Saleh yang membasuh muka di sumur Bung Karno mengatakan optimistis memenangkan pemilu legislatif 2014 dan duduk di parlemen.
“Mudah-mudahan dengan berkah air yang digunakan oleh Presiden Soekarno ini, dapat makin menumbuhkan percaya diri,” katanya.
Muhammad Saleh dan sejumlah tim pemenangannya mendatangi rumah Bung Karno tersebut usai menggelar rapat kampanye terbuka beberapa waktu lalu.
Rumah di Jalan Soekarno-Hatta Kelurahan Anggut Kota Bengkulu itu ditempati Bung Karno saat menjalani pengasingan di Bengkulu pada kurun 1938 hingga 1942. (Ant/IP)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close