Bicara Blak-blakan Di Ruangan Jaksa Agung

Capim KPK Ini Tak Ragu Penjarakan Anak Buah Jaksa Pras Di Partai Nasdem

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA- Saat seleksi wawancara dan uji publik hari kedua, Rabu (28/8/2019), Johanis Tanak, salah seorang calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan situasi dilema yang pernah dialaminya saat melakukan upaya penegakan hukum. Cerita yang diungkapkannya ini dalam rangka menjawab pertanyaan anggota panitia seleksi capim KPK Hendardi.

“Ceritakan situasi paling sulit ketika menangani suatu perkara! Anda berada dalam situasi dilema. Apa yang Anda putuskan?” tanya Hendardi.

Baca Juga:

Direktur Tata Usaha Negara Kejaksaan Agung ini menceritakan situasi dilema yang dialami adalah ketika dia memutuskan menetapkan tersangka sekaligus melakukan penahanan terhadap mantan Gubernur Sulawesi Tengah Mayjen (Purn) HB Paliudju yang melakukan tindak pidana korupsi.

Saat itu Tanak menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Agung Sulawesi Tengah. Kebetulan HB Paliudju merupakan kader dari Partai Nasdem. Partai yang menjadi tempat bernaung Jaksa Agung M Prasetyo. Keputusan Tanak saat itu membuat dirinya dipanggil oleh Jaksa Agung Prasetyo.

“Beliau (Prasetyo) bertanya kepada saya, siapa yang saya tangani. Saya katakan, beliau (Paliudju) korupsi dan menurut hasil pemeriksaan kami, unsur-unsur, bukti-bukti pengangkatan perkara sudah cukup,” kata Tanak.

“Saat itu, beliau (Prasetyo) mengatakan, dia (Paliudju) adalah angkatan Nasdem yang saya lantik,” terang dia.

Kemudian Tanak menyampaikan, berani mengungkap realitas pahit kepada Jaksa Pras tentang bagaimana publik menilai dan menyoroti Jaksa Agung yang diambil dari partai politik, dalam hal ini adalah Nasdem. “Saya katakan, saya mohon izin Pak Jaksa, publik dan media membicarakan bahwa Bapak tidak layak menjadi Jaksa Agung karena berasal dari partai politik. Ini momen tepat, meski dari partai Bapak, tapi Bapak tetap angkat perkara ini untuk buktikan tudingan itu tidak benar,” ujar Tanak.

Kendati demikian, Tanak memastikan bahwa dirinya akan menuruti perintah M. Prasetyo mengingat dirinya merupakan pimpinan tertinggi di kejaksaan, sedangkan dirinya hanya sebagai pelaksana saja. Dari hal yang disampaikannya itu, Jaksa Agung M. Prasetyo pun lantas memintanya waktu dan akan memberitahu keputusan apa yang harus dia ambil. “Beliau lalu telepon saya, mengatakan agar itu diproses, tahan! Dan besoknya saya tahan,” ujar Tanak.

Diketahui, kasus korupsi yang menjerat HB Paliudju adalah terkait dengan dugaan korupsi pencucian uang yang melibatkan mantan bendahara Gubernur sekaligus adik ipar HB Paliudju, Rita Sahara. Kasus tersebut, terjadi pada tahun 2014 lalu.[sgh]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *