Internasional

Cara Chile Tekan Angka Korban Tewas Gempa Bumi

Warga di Vina del Mar, Chile, meninggalkan gedung dan menyelamatkan diri saat gempa berkekuatan 7,1 SR mengguncang, 25 April 2014, AFP – Francesco Degaspari

Santiago: Chile adalah salah satu negara dengan sistem pencegahan dan penanggulangan bencana paling efektif di dunia. Sistem ini melibatkan aturan ketat konstruksi bangunan, simulasi evakuasi dan persiapan matang.

Saat kota Coquimbo di Chile dilanda gelombang tsunami setinggi 4,5 meter pada 16 September 2015, terjangan air menghancurkan sebuah permukiman kecil di pesisir. Hampir 200 kapal hancur; beberapa di antaranya terseret ke laut, sebagian lainnya terdampar di daratan.

Gelombang tsunami bergerak membawa banyak puing dan pasir ke seantero kota yang dihuni 150 ribu orang itu. Sembilan orang tewas di Coquimbo, dan empat lainnya di wilayah sekitar.

Jadi, mengapa hanya ada 13 korban tewas padahal tsunami besar itu dipicu gempa berkekuatan 8,4 Skala Richter? Sementara gempa yang lebih lemah di Haiti dan Nepal telah menewaskan ribuan orang.

Sebagian jawaban itu ada di sebuah tenda rumah sakit lapangan di Santiago, ibu kota Chile. Di sana, tim gabungan dari Peru, El Salvador, Amerika Serikat dan Spanyol ikut serta dalam simulasi bencana bernama Simex 2015. 

Mereka semua berdiskusi mengenai penanganan bencana, seperti harus mencari di area mana saja saat menggunakan anjing pelacak, bangunan jenis apa yang berpotensi banyak terdapat korban jiwa dan bagaimana cara menyelamatkan warga dari tsunami.

Dikoordinasikan oleh Agensi Urusan Kemanusiaan PBB serta Grup Pencari dan Penyelamat Internasional (Insarag), Simex 2015 diluncurkan setelah gempa dahsyat di Armenia dan Meksiko. Saat ini, Insarag disebut-sebut sebagai grup terbaik dalam mengkoordinasikan operasi pencarian dan penyelamatan dalam musibah gempa bumi.

Rapat Simex 2015 di Santiago meliputi sebuah simulasi, jika sewaktu-waktu Santiago dilanda gempa berkekuatan 9,0 SR.

"Ini adalah latihan," ucap Ricardo Toro, mantan jenderal angkatan darat yang menjadi ketua agensi penanggulangan bencana Chile, ONEMI.

"Kami mempunyai rencana bernama 'Chile Bersiap' yang intinya adalah latihan evakuasi bencana. Setiap tahun kami menjalani enam atau tujuh latihan evakuasi di semua wilayah," lanjut dia, seperti dikutip dari kantor berita Guardian.

Menceritakan mengenai evakuasi di awal-awal gempa di Coquimbo, Toro berkata: "satu juta orang dievakuasi dan banyak nyawa terselamatkan saat itu. Jika kami tidak melakukan evakuasi seperti itu, akan ada banyak kematian."

Aturan konstruksi di Chile mewajibkan semua bangunan baru harus bisa bertahan dalam gempa berkekuatan 9,0 SR. Bangunan itu boleh retak, miring atau bahkan berstatus tidak bisa digunakan lagi — tapi tidak boleh roboh.

Mendiskusikan mengenai gempa di Chile pada 2010, seorang petugas pemadam kebakaran bernama Felipe Espinoza menghitung ada berapa bangunan yang hancur saat itu. 

"Gempa saat itu 8,8 SR, dan ada 6.000 gedung di area terdampak guncangan — namun hanya enam yang rusak parah. Dan dari enam itu, hanya empat yang harus dirobohkan," sebut Espinoza.

Walter Fonseca, Kepala Komisi Darurat Nasional Costa Rica, menilai Chile bisa menekan angka korban gempa bukan semata karena aturan konstruksi. Ia menilai faktor penting lainnya adalah, otoritas Chile benar-benar disiplin dalam menegakkan aturan konstruksi tersebut.

"Hal ini menunjukkan kapasitas dan keseriusan pemerintah lokal di kota-kota Chile," tutur Fonseca. "Mereka benar-benar menginspeksi dan meloloskan desain serta konstruksi bangunan jika memang memenuhi syarat," tambah dia.

Christophe Schmachtel, pejabat Agensi Urusan Kemanusiaan PBB di Jenewa, menilai bahwa sistem penanggulangan bencana di Chile ditingkatkan sepenuhnya setelah kekacauan yang terjadi di negara tersebut dalam merespons gempa 8,8 SR pada Februari 2010.

Kala itu, lebih dari 500 orang tewas dan jaringan telekomunikasi di daerah terdampak gempa benar-benar terputus dengan pemerintah pusat Chile di Santiago.

Sebagai bagian dari "Ring of Fire" yang memanjang ke Alaska dan Jepang, chile secara berkala diguncang gempa. Gempa bumi terkuat sejauh ini tercatat terjadi di Chile, tepatnya di kota Valdivia pada 1960. Gempa berkekuatan 9,5 SR itu menewaskan sekitar 5.000 orang.

"Chile di era modern telah benar-benar mempelajari protokol-protokol PBB dan mengadopsinya sesuai kebutuhan masyarakat," ungkap Schmachtel. "Chile sekarang sudah menjadi contoh untuk seluruh dunia," pungkas dia.

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close