Cara Gangster di Tangsel Tatar Rekrutan: Matiin Rokok dengan Lidah hingga Tawuran

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Kekerasan demi kekerasan Gangser Vembajak, yang diduga merupakan segerombolan alumni Madrasah Pembangunan UIN Jakarta perlahan terungkap. Terutama cara mereka menatar atau melatih calon anggota baru.

Menurut salah satu orangtua korban, Iqbal, anaknya yang menjadi  korban kebengisan geng ini sempat disuruh ikut tawuran dan bahkan disuruh mematikan puntungan rokok para seniornya menggunakan lidah. “Kalau untuk tawuran ternyata mereka memiliki kode tersendiri yakni dengan sebutan ‘partia’,” jelas Iqbal kepada indopolitika.com, Senin, (4/11/2019).

Baca Juga:

Menurut Iqbal, kekerasan itu dilakukan seniornya dengan modus sebagai penataran kepada calon anggota geng yang akan direkrut. Karena kesembilan korban menolak bergabung, lalu mereka dianiaya dan diteror.

“Kalau anak saya bilang, bahasa pelaku itu istilahnya penataran kepada junior yang enggak mau nongkrong bareng lagi. Bahkan sampai ada satu korban siswa lainnya, dipaksa matiin rokok pakai lidah,” ujarnya.

Mulanya kekerasan ini tidak terendus oleh orang tua korban. Saat ditanyakan soal memar dan bekas hantaman yang nampak di sekujur tubuh, para korban kompak menjawab terjatuh saat main futsal dan lainnya.

“Baru terungkap karena saya curiga, terus setelah didesak baru anak saya cerita. Terus orang tua siswa yang lain juga pada cerita yang sama. Kita semua orang tua kumpul dan bahas ini, dan kita laporkan ke polisi,” terang Iqbal.

“Saya sudah melaporkan kasus kekerasan ini ke Polsek Ciputat. Laporan tersebut terdaftar di nomor LP/1124/K/XI/2019/Sek Cip/Res Tangsel,” tandasnya.

Sebelumnya, Kapolsek Ciputat, Kompol Endy Mahandika membenarkan adanya laporan mengenai kekerasan terhadap siswa MP Pembangunan UIN. Namun kini penanganannya diambil oleh unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

“Terlapor ada 5, mereka adalah alumni yang sekarang sekolah di jenjang SMA. Kita kerjasama dengan Polres, hari ini dilimpahkan ke unit PPA,” ucap Endy.

Dilanjutkan Endy, hingga saat ini sudah 2 orang tua korban dan 1 orang tua dari pelaku yang dipanggil guna dimintai keterangan. Dari sana diperoleh pengakuan, bahwa korban dipanggil dan diajak ke rumah terlapor hingga terjadi peristiwa itu. “Sudah 3 orang tua yang kita mintai keterangan, kalau hasil visum saya belum melihat,” ucap Endy.[asa]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *