Pemerintahan

Catatan dari Peluncuran Pekan Lansia Nasional

JAKARTA – Kantor Staf Presiden menghadiri peluncuran Pekan Lansia Indonesia 2018 yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bekerjasama dengan Yayasan Swastisvarna

Tenaga Ahli Kedeputian V Kantor Staf Presiden Sunarman Sukamto menekankan, isu-isu lansia memiliki banyak kemiripan dengan isu difabilitas. “Yang membedakan adalah batasan faktor usia yg membuat definisi lansia tidak perlu didiskusikan atau diperdebatkan. Sementara isu difabilitas masih menyisakan perdebatan tentang definisi dan terminologi karena menyangkut filosofi dan ideologi yang mendasarinya,” kata Sunarman.

Saat ini jumlah warga lanjut usia di Indonnesia sekitar 22 juta orang. Berdasarkan data BPS dan Bappenas awal 2014, proyeksi pertambahan kelompok ‘aging population’ pada 2010–2035 akan menjadi 167,2 juta jiwa.

Pelaksanaan Pekan Lansia 2018 akan digelar pada dengan tema tanggal 8-10 Mei 2018 di Jakarta Convention Center dengan tema ‘No One Left Behind: Promoting a Social Protection for All’.

Tujuan kegiatan ini mencakup aktualisasi pengarusutamaan isu Lansia dan Kelanjutusiaan, mengubah sikap mental untuk lebih peduli terhadap upaya peningkatan kesejahteraan Lansia, keterpaduan langkah dan strategi yang lebih terintegrasi, holistik dan berkesinambungan, dan mengubah pola peringatan HLUN dari event menjadi history yang lebih bermakna menuju Lansia Indonesia Mandiri, Sejahtera, dan Bermartabat.

“Upaya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak lanjut usia tidak terlepas dari upaya pengembangan karakter serta jati diri masyarakat dan bangsa. Hal ini ditandai oleh terbangunnya modal sosial yang tercermin pada bekerjanya pranata gotong royong, berdayanya masyarakat, meningkatnya kepercayaan antar warga, yang berorientasi untuk menumbuhkan  kepedulian sosial,” kata Sekretaris Kementerian Koordinator PMK Satya Sananugraha.

Dipaparkan, dalam upaya pemberdayaan lanjut usia, telah dilakukan intervensi berupa kebijakan, program, kegiatan dalam berbagai bentuk, dari berbagai pihak, khususnya oleh Pemerintah, agar para lansia dapat hidup sejahtera, bahagia dan bermartabat.

Namun, yang lebih penting dari semua upaya itu yakni bagaimana kita semua melakukannya secara bersama, dengan mengedapankan nilai-nilai integritas, kerja keras, dan bergandengan tangan untuk bergotong royong mengatasi berbagai hambatan terkait kelanjutusiaan. “Nilai-nilai ini tengah kita gaungkan kembali dengan nama ‘revolusi mental’,” papar Satya.

Hadir pula Duta Lansia Indonesia, artis Paramitha Rusady. Paramitha Rusady yang mengajak kita semua untuk melibatkan dan memberdayakan lansia agar tetap memiliki rasa percaya diri dan memberi konstribusi kepada pembangunan bangsa dan negara.

Sambutan dari Sekretaris Kementerian Koordinator PMK membangkitkan semangat, tapi Kantor Staf Presiden mencatat, perlu ada penekanan terhadap kondisi riil para lansia.

“Terutama kondisi lansia di desa-desa dan daerah miskin. Bagaimana kajian mendalam soal lansia terkait bagaimana kondisinya, apa kebutuhan dan hambatan sehari-hari mereka? Sama seperti isu difabilitas, jangan-jangan isu-isu lansia juga masih bagus di tataran wacana,” kata Sunarman.

Ia memaparkan beberapa situasi dan kondisi lansia yang perlu dicatat dari berbagai sisi, antara lain aspek kesehatan, yakni kemungkinan muncul demensia, gangguan penglihatan dan pendengaran yang sangat sering dijumpai pada lansia.

Pada aspek pendidikan, lansia seharusnya tetap bisa belajar baik untuk bisa mendapat penghasilan ekstra ataupun untuk hobi atau sarana bersosialisasi. Kegiatan belajar bisa mencegah atau memperlambat penurunan fungsi kognitif.

Dalam aspek ekonomi, banyak dijumpai masalah lansia terlantar, tanpa keluarga atau ditelantarkan keluarga yang merupakan masalah berat. “Santunan untuk lansia atau keluarga miskin untuk merawat lansia bisa membantu. Sebaiknya respita care di mana lansia bisa dititipkan ke panti selama 2-4 minggu setahun supaya keluarga bisa mendapat ‘istirahat’ dari merawat lansia,” papar Sunarman.

Di aspek sosial, kesepian dan keterkucilan merupakan masalah yg umum dihadapi lansia. Di sinilah perlu adanya posyandu lansia, perkumpulan adiyuswa, kunjungan bagi lansia yang ‘bedridden’, training bagi lansia untuk menggunakan gadget, dan lain-lain untuk bisa membantu mengatasi kesepian dan keterkucilan lansia.

“Semangat luar biasa dari Kemenko PMK wajib kita apresiasi, tetapi sebaiknya ada sebuah upaya berkelanjutan untuk melakukan studi profil lansia,” kata Sunarman. Selain itu, perlu diteliti detail bagaimana prevalensi gangguan kognitif, emosi dan perilaku, pemetaan layanan kesehatan lansia, local wisdom yang mendukung lansia, serta bagaimana penyediaan layanan sosial, spiritual, dan ekonomi bagi warga lanjut usia.

Tags

Artikel Terkait

Close
Close